Animal Science
Bahaya Epidemi Mengancam Kelelawar

Baru-baru ini, wabah penyakit telah mengancam kelangsungan hidup populasi hewan-hewan yang berperan penting dalam penyerbukan tanaman pangan seperti kelelawar, lebah madu dan kaum amfibi.

 Astronomy
Ketika ISS Menjadi Sasaran Hacker

Para peretas komputer di seluruh dunia memang menyukai tantangan. Bukan hanya komputer bumi yang menjadi incaran mereka, tetapi mereka bahkan mencoba meretas sistem komputer di luar angkasa sana!

 Information Technology
Riset Kontroversial : Apakah Internet Membuatmu Bodoh?

Pada tahun 2008, Nicholas Carr mempublikasikan opininya tentang internet yang memicu perdebatan sengit para ilmuwan.

 Astronomy
Teka-teki Planet Mirip Bumi

Kemegahan angkasa mengandung sejuta misteri yang mengundang rasa penasaran umat manusia selama berabad-abad. Setiap kali memandang ke langit malam tanpa batas, seringkali rasa ingin tahu itu menghadir

Astronomy
Teka-teki Planet Mirip Bumi
2012-03-17 16:38:24

Kemegahan angkasa mengandung sejuta misteri yang mengundang rasa penasaran umat manusia selama berabad-abad. Setiap kali memandang ke langit malam tanpa batas, seringkali rasa ingin tahu itu menghadirkan pertanyaan yang cukup mengusik. Di semesta maha luas ini, apakah kita sendirian?

Pencarian kehidupan di luar Bumi telah mendorong lahirnya para astronom pemburu planet. Hingga kini ratusan planet di luar tata surya telah ditemukan? Namun, planet manakah yang merupakan dunia penampung kehidupan? Para astronom mulai berteori, bahwa planet yang memiliki kehidupan di dalamnya tentulah harus mempunyai karakteristik yang mirip Bumi. Planet-planet raksasa seperti Jupiter atau Saturnus yang berat jenisnya bahkan lebih ringan dari air, tak mungkin menampung mahkluk seperti manusia.

Selebriti Planet Baru

Dari ratusan planet yang ditemukan oleh para astronom, ada beberapa yang secara khusus menjadi sorotan bak selebriti di atas panggung. Planet-planet ini difavoritkan karena mereka memiliki kemiripan dengan bumi. Segera saja teleskop diseluruh dunia diarahkan pada mereka untuk “mengintip” kemungkinan kehidupan di sana.

Salah satu pendatang terbaru tersebut adalah planet paling mirip bumi yang diberi nama GJ667C. Planet ini cukup dekat pada bintang kerdilnya yang berwarna oranye cerah sehingga sangat memungkinkan untuk memiliki lautan dan samudera raya.

Dua bulan sebelumnya, dunia antariksa dihebohkan dengan penemuan Kepler-22b yang dilaporkan sebagai planet terkecil di orbitnya yang mengelilingi sebuah bintang mirip matahari. Planet tersebut berukuran 2,4 kali dari bumi.

Dibalik Kemiripan Dengan Bumi

Target akhir dari Misi Kepler NASA adalah memberikan perkiraan statistik pada kita mengenai planet berukuran bumi yang melimpah jumlahnya di galaksi Bima Sakti. Namun, apakah ukuran yang sama menjamin keadaan fisik yang sama pula? Fakta ini masih diragukan. Tak ada yang menjamin planet-planet ini juga memiliki air seperti yang terdapat di bumi.

Sama seperti cara pandang seorang koki yang menyakini bahwa roti yang bentuknya sama belum tentu terbuat dari bahan yang sama, demikian juga para astronom pemburu planet. Belum tentu semua planet padat memiliki kandungan yang sama. Pengamatan terbaru menunjukkan kemungkinan bahwa planet-planet dalam galaksi ini memiliki lebih banyak keragaman dari pada yang dapat dibayangkan. Karena itu, planet yang paling mirip bumi sekalipun belum tentu dapat menjanjikan kehidupan.

Jade C. Carter-Bond dari Planetary Science Institute di Arizona berkata bahwa komputer simulasi menunjukkan bahwa struktur kimiawi planet-planet tersebut bisa jadi berbeda dengan bumi karena bintang-bintang yang mereka kelilingi memiliki elemen yang jauh berbeda dengan matahari.

Bukan Kembaran Bumi

Pertanyaan terbesar tahun ini adalah, mungkinkah para astronom menemukan bumi yang lain? Mungkinkah ada planet yang benar-benar menjanjikan kehidupan seperti Planet Bumi?. Setelah menemukan kandidat planet yang dianggap kembaran bumi, para astronom pun memulai investigasi mereka.

Tim Simulasi komputer mencoba mengamati komposisi planet dan menyimpulkan ada dua kunci kimiawi yang menentukan komposisi planet-planet mirip bumi ini. Hasilnya berdampak langsung pada kemungkinan planet itu dapat ditinggali.

Kunci pertama adalah perbandingan antara karbondioksida dan oksigen. Bumi, Mars dan Venus memiliki kadar oksigen yang lebih banyak dari pada karbondioksida. Namun, bisa jadi planet-planet seukuran yang ditemukan para ilmuwan ini malah memiliki permukaan yang kering dimana atom karbon membelah molekul air dan membentuk karbon monoksida dan hujan metana. Tinggal di Planet ini tak ada bedanya dengan tinggal di dunia dengan asap polusi tingkat tinggi. 

Kunci kedua adalah perbandingan antara magnesium dan silikon. Bumi memiliki kedua unsur tersebut dalam jumlah yang berlimpah. Namun, kandungan silikon sedikit lebih banyak dari pada magnesium. Planet yang memiliki jauh lebih banyak silikon dari pada magnesium akan lebih sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi sehingga atmosfirnya akan sangat berbeda dengan bumi.

Para ahli menyimpulkan bahwa di alam semesta ini, bisa saja ada triliunan planet yang mirip dengan bumi, tetapi mayoritas dari mereka sama sekali bukan kembaran Bumi. Mereka memiliki struktur internal dan atmosfir yang jauh berbeda. Sebuah planet yang sangat sedikit mendapat sinar bintangnya, yang lazim terjadi di alam semesta ini tentu akan menghasilkan dunia yang aneh, yang sama sekali jauh berbeda dengan bumi.

Misteri Kehidupan Alien

Bila planet-planet mirip bumi ini pada kenyataannya sama sekali berbeda jauh dengan bumi, apakah ini berarti bahwa planet-planet ini tak sanggup menjanjikan kehidupan? Hal ini masih menjadi misteri. 

Sebuah kehidupan alien bisa jadi jauh lebih bervariasi dan memiliki kemampuan adaptasi yang jauh lebih hebat dari pada yang dapat kita bayangkan. Barangkali ada alien yang memang menganggap planet penuh asap beracun sebagai kampung halaman yang nyaman. Bagaimanapun juga rasanya mustahil untuk mengenal kehidupan semacam ini tanpa berkunjung langsung ke planet mereka.

“Dalam sebuah planet berbasis karbon, mahkluk alien bisa jadi memakan silikat atau oksida dan menggunakan karbondioksida untuk melakukan proses metabolisme tubuhnya”, ujar Marc Kuchner dari NASA.

Penelitian ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kita perlu lebih berhati-hati dalam menentukan kategori sebuah planet mirip bumi yang layak huni. Memang sangat sulit untuk melakukan perhitungan yang realistis disaat kita memiliki banyak teleskop raksasa untuk melakukan analisis kimiawi. Semakin tinggi teknologi berkembang, semakin besar harapan kita untuk menemukan kehidupan baru di luar sana. Mungkinkah disudut semesta yang lain, kehidupan seperti bumi memang ada ?

Penelitian yang menarik ini dipublikasikan dalam Astrophysical Journal Letter.

http://news.discovery.com/space/suspected-earthlike-planets-may-be-nothing-like-earth-120229.html



Error connecting to mysql