Sebuah sensus terbesar didunia sedang dijalankan. Inilah sensus tersulit yang pernah ada karena penduduk yang dihitung tidak tinggal didarat.
NEW: Perang Sains di Pengadilan
Sepintas, ilmu sains dan ilmu hukum ada dalam dua dunia yang berbeda. Yang satu ilmu eksakta, yang lain ilmu sosial.
NEW: Sundulan Puyol dan Fisika
Hasil sundulan Carles Puyol yang gagal dicegah oleh Kiper Neuer telah menjadi buah bibir tidak hanya di Spanyol tetapi juga di berbagai belahan dunia...
NEW: Jatuh Cinta: Sebuah Peristiwa Ilmiah
Pernahkah gejala-gejala ini mengejutkan anda? Debaran jantung yang tidak menentu, setruman listrik yang semu, perasaan yang bercampur aduk, kehilangan kata-kata, tersipu-sipu karena salah tingkah, pulsa yang membengkak hingga status facebook yang mengundang puluhan komentar.
NEW: Sepak Bola ala Ilmuwan
Give me freedom…Give me fire..Give me reason..Take me higher
See the champions..Take the field now.. You define us.. Make us feel proud..
Fisika & Olah Raga Tendangan Pisang dan Bola Rotairo
Mau tahu apa yang dilakukan oleh Kapten tim Inggris David Beckham sebelum bertanding pada pertandingan pertamanya di Piala Eropa 2004? Beckham berlatih tendangan bebas sendirian! Ternyata ia sedang mempersiapkan tendangan pisangnya yang begitu terkenal.
Asyiknya Fisika Einstein: Newton forgive me….
Itu kata-kata Einstein saat teori yang dihasilkannya ternyata berhasil menggulingkan teori Isaac Newton, seorang fisikawan legendaris, yang teorinya dipercaya oleh dunia sebelum munculnya teori Einstein yang mengobrak-abrik semuanya.
Asyiknya Fisika Industri butuh Fisika lho...
Dalam beberapa minggu terakhir ini penulis sedang menyiapkan materi seminar applikasi MIPA dalam industri. Penulis tidak menyangka, ternyata penerapan MIPA khususnya fisika dalam industri luar biasa banyak, jauh lebih banyak dari apa yang penulis duga sebelumnya.
Bercerita tentang Peraih Nobel Subrahmanyan Chandrasekhar
Subrahmanyan Chandrasekhar, peraih nobel Fisika tahun 1983 dilahirkan di Lahore, India pada 19 Oktober 1910. Ayahnya, Chandrasekhara Subrahmanyan Ayyar adalah pegawai di departemen keuangan India. Sementara Ibunya, Sita (neé Balakrishnan) seorang ibu rumah tangga biasa namun berintelektual tinggi (ia mampu menerjemahan karya Henrik Ibsen, “A Doll House” ke bahasa Tamil).
NEW: Perang Sains di Pengadilan 2010-07-24 16:07:36
Sepintas, ilmu sains dan ilmu hukum ada dalam dua dunia yang berbeda.
Yang satu ilmu eksakta, yang lain ilmu sosial. Bagi pelajar SMA, yang satu
dipelajari di jurusan IPA, yang lain di jurusan IPS. Namun, seiring dengan
berkembangnya tingkat kejahatan, para praktisi hukum di tuntut untuk memahami
sains. Demikian juga para ilmuwan juga mau tak mau, harus berurusan dengan
hukum. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Tentu saja karena ada jembatan yang
menghubungkan keduanya, yaitu ilmu Forensik.
Dinamika Forensik
Dalam Film thriller ala Hollywood,
seringkali kita berdecak kagum dengan investigasi yang dilakukan terhadap
perkara kriminal. Sang pemeran utama, seorang detektif hebat (biasanya diperankan aktor yang tampan) akan
segera menghubungi ahli forensik untuk mengidentifikasi korban pembunuhan.
Dalam waktu sekejap, pakar yang cerdas itu menunjukkan sederet hasil tes
dilaboratorium kepada sang detektif. Dengan sedikit bumbu ilmu forensik, film action ini pun terlihat dikemas dengan
cerdas. Pada kasus lain, jutaan pemirsa yang menonton acara Crime Scene
Investigation akan terpesona
melihat betapa hebatnya ilmu forensik yang datang bak pahlawan untuk menyeret
sang pelaku kejahatan ke dalam penjara. Namun, apakah kenyataan di lapangan memang
seindah “negeri dongeng”?
Penerapan
ilmu forensik dalam kasus kriminal memang susah-susah gampang. Bila riset sains
yang lain cukup diperdebatkan dikalangan intern para ilmuwan saja, kasus
forensik bisa mengundang kontroversi di media massa. Kematian penyanyi pop
legendaris, Michael Jackson hanyalah salah satu contohnya. Di Indonesia, kita
dapat melihat kasus kematian Munir, sang pejuang anti korupsi , yang
penyebabnya masih kontroversial. Forensik pun menjadi sorotan. Maklum, Sederet
data atau angka tertentu dari laboratorium dapat menentukan takdir hidup
seorang tersangka kriminal.
Dilema
Akademisi dan Praktisi
Ilmu Forensik lebih banyak
dipengaruhi oleh kebutuhan di bidang hukum dan seringkali melewatkan protokol
standar ilmu akademik yang berbelit-belit. Akibatnya, mayoritas metode dan alat
yang ditemukan seperti sidik jari, analisa rambut sampai perbandingan serat
muncul ke publik dengan cepat tanpa ujicoba seakurat ilmuwan bioteknologi yang
menemukan spesies baru. Ini wajar, bila mengingat kejahatan yang merajalela tak
bisa menunggu terlalu lama.
Disinilah letak jurang antara
akademisi dan praktisi. Para akademisi yang cenderung teoritis menilai bahwa
para ahli forensik hanyamemiliki
sedikit perbandingan untuk memperkirakan kadar penyimpangan data. Mereka
mengabaikan banyak protokol wajib. Contohnya analisa DNA dan fMRI yang telah
diterapkan sebelum terbukti valid
untuk digunakan. Sementara para ahli forensik sering kesal pada rekan-rekannya
dikalangan akademik yang baru melancarkan kritikan setelah prosedur operasional
dilakukan.
Untuk menjembatani perbedaan ini,
kongres Amerika membentuk National
Institute of Forensic Science yang memiliki kekuatan yang seimbang di dua
bidang, teori maupun praktek. Institusi ini diharapkan dapat membangun prosedur
standar maupun dukungan penuh pada ahli forensik.
Sains Masuk Pengadilan
Pada umumnya fMRI (functional
magnetic resonance imaging) digunakan oleh para dokter untuk mendeteksi
gegar otak atau kanker otak. Namun, alat ini muncul di pengadilan Chichago gara-gara
kasus pembunuhan beruntun yang dilakukan Brian Dugan. Sang psikopat ini terbukti
merampok dan membunuh dengan keji, salah satu korbannya gadis kecil berusia 7
tahun.Atas kesalahannya, ia diancam
hukuman mati.
Adalah Kent Kiehl, seorang pakar syaraf dari University of New Mexico yang terobsesi dengan struktur otak para
psikopat. Ia meng-scan otak pembunuh berdarah dingin ini dengan fMRI dan
melakukan serangkaian wawancara dengan Brian. Hasilnya, ia menyimpulkan adanya
kerusakan nyata dibagian paralimbic
system di otak, yang berperan dalam mengatur emosi. Sebenarnya, Kiehl hanya
bermaksud untuk memenuhi panggilan profesinya, yaitu mematahkan stigma negatif
tentang psikopat dan menolong mereka dengan terapi untuk berhenti melakukan
kejahatan. Sebuah maksud yang mulia. Tentu saja, pengacara Dugan segera menyambar
kesempatan ini.
Ngotot Membela psikopat
Kasus Brian adalah
kasus pertama didunia yang menghadirkan alat fMRI sebagai bukti. Joseph
Birkett, jaksa penuntut berargumen bahwa kehadiran halaman berwarna hasil scan
otak tersebut dapat mengecoh para juri sehingga hakim melarang dewan juri untuk
melihatnya. Akan tetapi Kiehl diizinkan untuk mendeskripsikan bagaimana
struuktur otak Brian Dugan kepada mereka.
Jadilah ilmuwan ini
berdiri dipengadilan selama 6 jam, lengkap dengan slide presentasi dan panjang lebar “memberi kuliah” tentang
struktur otak seorang psikopat. Riset Kiehl menawarkan argumen persuasif bahwa
dengan “kerusakan otak” nya, Brian sendiri tidak sanggup mengontrol dorongannya
untuk membunuh. Brian sesungguhnya hanya “pasien sakit jiwa”. Pembelaan ini
memicu reaksi keras dari banyak pihak.
Prof.Stephen Morse
yang memiliki dua gelar, di bidang hukum dan juga psikiatri dari University of Pennsylvania berkata,”Hukum
didasarkan pada rasionalitas individu dan tindakan yang dilakukan, bukan pada
otak dan aliran darah. Otak tidak membunuh manusia. Manusialah yang membunuh
manusia”
Hari berikutnya,
jaksa penuntut menghadirkan ilmuwan yang lain Jonathan Brodie, psikiatri dari New York University. Ia menolak semua
argumen Kiehl. Alasannya, ilmuwan tersebut meng-scan otak brian, 26 tahun sesudah ia melakukan pembunuhann pertama.
Bisa jadi otak Brian saat itu masih normal.Setelah berulang-ulang membunuh, tidak heran bila otaknya berubah
menjadi otak pembunuh.
Akhirnya dewan juri
memutuskan bahwa Brian Dugan diganjar hukuman mati. Namun, Brodie tetap
mengakui dari sisi teknis, Kiehl telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Peluang Bisnis
Walaupun gagal, Kiehl
telah menorehkan sejarah baru dengan menjadikan kajian ilmiahnya menjadi tren
baru. Belasan pengacara menghubunginya untuk jasa pelayanan yang sama. Khiel
yang terobsesi dengan para psikopat itu meng-scan semua otak mereka dengan senang hati. Mayberg ,seorang
peneliti menyatakan keberatannya. Menurutnya ilmuwan seharusnya murni bicara
atas nama sains, bukannya memanfaatkan issue
demi agenda penelitian pribadinya. Namun, Khiel ngotot bahwa ia begitu
“terpanggil” untuk memberi pengertian yang benar tentang pribadi psikopat.
Sementara itu, para
pengusaha di Amerika Serikat jeli mencium peluang bisnis baru. “Sales” alat
fMRI telah mengetuk banyak pintu pengadilan. Perusahaan Cephos di Massachusetts
dan No Lie MRI di San Diego optimis penjualan mereka akan
meningkat seperti alat tes kebohongan, polygraph.
Wah, bagaimanapun juga, bisnis tetaplah bisnis…
Pemakaian teknologi
canggih memang belum membumi di Indonesia. Namun, tidak ada salahnya kita
belajar dari negara maju, bagaimana dampak sains dalam penegakan hukum.
Kesimpulannya, seorang ilmuwan selayaknya melayani masyarakat dengan
pengetahuannya. Jenius saja tidak cukup. Alangkah baiknya jika kecerdasan
berjalan beriringan dengan kebijaksanaan.