Environmental Issue
Daun-Daun yang Gemar Bersolek

Klorofil, karotenoid, anthocyanin, dan tanin. Rahasia di balik kecantikan sehelai daun.

 Human Science
Memasak, Membuat Otak Manusia Semakin Pintar

Jika zaman dahulu nenek moyang tak menemukan cara mematangkan makanan mentah, mungkin otak kita sekarang hanya sebesar gorila.

 Robotic
Robot Impian Anak-anak

Apa yang anda harapkan bila robot telah menjadi bagian dari hidupmu sehari-hari?

 Nanotechnology
Memori Selusin Atom

Seiring perkembangan zaman, komputer memang menjadi semakin mini. Bila ratusan tahun yang lalu, komputer berukuran sebesar ruangan, kini komputer bahkan sudah tak dapat terlihat oleh mikroskop biasa!

NEWS:
Burung Merpati Pandai Matematika
2012-01-13 09:15:40

Siapa yang tak pernah melihat burung merpati? Burung ini memang ada di mana-mana. Kita mengenalnya sebagai pengantar surat ataupun bintang tamu yang sering muncul dalam pertunjukan sulap. Akan tetapi tahukah anda,burung ini sangat pandai matematika?

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini menemukan fakta bahwa burung merpati dapat membedakan jumlah objek, menjodohkan jumlah yang sama pada pasangan kartu, dan mempelajari aturan matematika yang abstrak. Luar biasa! Selama ini, selain manusia, hanya monyet yang diketahui memiliki kemampuan ini.

Rahasia Sang Burung Metropolitan

Merpati adalah burung yang modern. Tak seperti teman-temannya yang senang hidup damai di dalam hutan dan membangun sarang dipepohonan, burung Merpati justru menikmati hiruk pikuk kehidupan kota metropolitan. Tidak heran bila kita sering menemukan burung yang eksotik ini di taman-taman kota besar. Lalu apa yang membuat burung merpati dapat menikmati tantangan hidup di kota kaum urban? Jawabannya terletak pada otak mereka.

Spesies yang memiliki otak yang lebih besar dapat menyantap lebih banyak macam makanan , tinggal di tempat yang lebih variatif, dan memiliki inovasi dan kreativitas baru untuk bertahan hidup”, demikian ujar Alexei Maklakov dari Uppsala University yang telah mempelajari kehidupan lebih dari 82 spesies burung di kota-kota besar seperti Paris dan Jenewa. 

Dalam laporannya pada jurnal Royal Society Biology Letters, terdapat penjelasan mengenai perbandingan antara ukuran otak dan massa tubuh. Para peneliti mengamati bahwa burung dengan ukuran otak yang lebih besar dapat beradaptasi dengan baik di kota. Hampir semua burung metropolitan ini termasuk dalam kelompok burung pengicau, kecuali merpati.

Einstein di Dunia Burung

Namun ternyata, ukuran otak tak selalu dapat dijadikan indikator kecerdasan. Burung berotak kecil belum tentu burung yang bodoh. Beberapa serangga contohnya, mereka memiliki otak yang sangat mini jika dibandingkan dengan kecerdasan mereka. Manusia purba Neanderthal bahkan memiliki otak yang lebih besar dari pada manusia modern sekarang.

Jika masalahnya bukan pada ukuran, lalu apakah yang menjadi rahasia kecerdasan dalam dunia burung? Ternyata struktur otaklah yang menjadi kuncinya. Struktur otak yang menentukan sejauh mana inovasi dan kreativitas dapat berkembang. 

Beberapa tahun yang lalu, pernah ada penelitian matematika terhadap seekor burung yang brilian. Alex adalah seekor burung kakak tua Afrika yang berwarna abu-abu milik Irene Pepperberg, seorang Profesor psikologi dari Brandeis University.

Selama ini, burung kakak tua sering kali dikagumi karena mereka dapat meniru cara manusia berbicara, tetapi Pepperberg menemukan bahwa kecerdasan Alex lebih tinggi dari itu. Alex dapat membuat sebuah kata baru untuk benda dengan cara menggabungkan kata-kata yang telah ia ketahui. Sebelum meninggal pada tahun 2007, Alex menorehkan sejarah dalam dunia sains dengan kejeniusannya. Ia dapat berhitung, berbicara dan bahkan memiliki kecerdasan setara anak manusia berumur 5 tahun dan tingkat emosional setara anak manusia berumur 2 tahun.

Nah, Dapatkah merpati menjadi “Einstein” di dunia burung?

Damian Scarf dari University of Otago membantahnya, “ Bahkan dalam dunia burung, merpati tak dapat diibaratkan sebagai batang krayon yang paling tajam di dalam kotak krayon. Saya yakin kemampuan ini tersebar luas juga di antara burung spesies lain. Sudah ada bukti nyata bahwa kemampuan matematika juga tersebar di antara banyak spesies primata selain monyet”

Tes Matematika Untuk Burung

Bersama kedua rekannya, Harlene Hayne dan Michael Colombo, Damian mulai mempelajari apakah burung merpati dapat mengurutkan angka 1, 2 dan 3. Mereka menunjukkan tiga gambar yang masing-masing berisi satu, dua dan tiga objek. Tiga gambar tersebut muncul bersamaan pada layar sentuh sebuah komputer dan merpati akan mematuk layar tersebut sebagai respon. Bila burung merpati berhasil mematuk dengan urutan yang benar, cemilan gandum akan diberikan sebagai hadiah.

Selanjutnya, para ilmuwan menaikkan “taruhan” untuk melihat apakah burung merpati hanya dapat sekedar mengurutkan 1,2 dan 3 atau mereka dapat mempelajari aturan matematika yang lebih abstrak. Scarf dan timnya menunjukkan pasangan gambar yang berisi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, hingga 9 objek. Ternyata merpati dapat memasangkan mereka dengan urutan yang benar. Misalnya, bila seekor merpati dihadapkan pada kartu berisi 8 objek  dan 5 objek, mereka akan mematuk yang berisi 5 objek terlebih dahulu. Merpati bahkan mengerti konsep nol yang merupakan bilangan abstrak yang baru dapat dikenali manusia setelah berumur empat tahun. 

Mengamati fenomena kecerdasan dari kakak tua, merpati dan monyet, kini para ilmuwan dihadapkan pada sebuah teka-teki baru. Mengapa kelompok burung dan primata kelihatannya berbagi kemampuan matematika?

Penjelasannya mungkin saja nenek moyang dari kedua kelompok hewan ini memang memiliki kompetensi matematika. Kemungkinan lainnya adalah kemampuan matematika ini berevolusi secara independen pada masing-masing burung dan primata.

Pada titik ini, Scarf tak dapat menggaris bawahi hipotesis mana yang benar. Untuk menjawab pertanyaan ini, masih banyak hewan lain yang perlu diberikan tes matematika. Wah..wah..wah…

http://news.discovery.com/animals/pigeons-math-animals-111222.html



Error connecting to mysql