Liputan
Outreach, Development of Indonesia's Outlying Areas

Liputan majalah Tempo, 2 Agustus 2011

 Liputan
Anak-Anak Papua yang Digembleng Matematika dan IPA di Surya Institute (NEW!!)

Tak ada anak Indonesia yang bodoh. Itulah yang diyakini pendiri Surya Institute Prof Yohanes Surya PhD. Berbekal keyakinan tersebut, dia merekrut 27 anak Papua secara acak untuk digembleng di lembaga yang dipimpinnya. Kini, setelah sepuluh bulan, sebagian di antara mereka siap diterjunkan dalam ajang olimpiade.

 Liputan Media
Adakah anak Jenius Indonesia?

Apakah anak-anak Indonesia setara kecerdasannya dengan anak-anak bangsa-bangsa maju di dunia? Kalau anda melihat deretan prestasi Prof. Yohanes Surya dan anak-anak asuhannya, jawabannya adalah, tidak.Samasekali tidak.

 SREC
Speech Peletakan Batu Pertama SREC

Hari ini mimpi ini sedikit demi sedikit mulai terealisir. Diatas tanah yang saat ini kita injak bersama ini akan terjadi suatu sejarah yang luar biasa. Mengapa? Ditempat inilah pembelajaran GASING (Gampang Asyik dan Menyenangkan) untuk matematika dan Sains akan terus disempurnakan.

ICYS
Indonesia Juarai ICYS di Polandia
2009-07-17 08:22:18

Di saat berbagai media massa di Indonesia sibuk (meski mulai jenuh dan bosan) melihat manuver para tokoh politik untuk maju dalam pemilihan presiden Juli mendatang, terbetik kabar bahwa anak-anak Indonesia yang berlomba pada ajang International Conference of Young Scientists ke-16, 24-29 April, di Pszczyna, Polandia, untuk pertama kalinya dalam sejarah menyabet jumlah medali emas terbanyak, bahkan total perolehan medalinya.

Putera dan puteri Indonesia yang berlomba dalam ajang itu mempersembahkan bagi Bangsa dan Negara: 6 medali emas (2 di bidang fisika, 1 di bidang computer sciences, dan 3 di bidang ekologi), 1 medali perak (di bidang ekologi), 3 medali perunggu (2 di bidang ekologi, dan 1 di bidang matematika). Bahkan pasangan termuda Vincentius Gunawan dan Fernanda Novelia, yang masing2 belum berusia 15 tahun dan masih bersekolah di kelas VIII (2 SMP), termasuk yang meraih medali emas di bidang ekologi.

Anak-anak Indonesia yang bertanding pada ajang dunia itu menampilkan 10 karya penelitian, yang pada dasarnya adalah hasil penelitian mereka di sekolah masing-masing, dan mampu mengalahkan sekitar 200 peserta dari negara-negara maju seperti AS, Jerman, Rusia dll. Capaian yang luar biasa ini baru berhasil diraih setelah lima tahun tim Indonesia mengikuti ajang ICYS, artinya ada kemajuan yang dicapai oleh anak-anak yang untuk lomba ini dipersiapkan oleh Surya Institute, sebuah lembaga yang didirikan oleh pakar fisika Dr Yohanes Surya. Institute ini didirikannya pada 2006 dengan visi dan misi mereformasi pendidikan sains dan matematika di Indonesia, melalui pengembangan metode baru dan meningkatkan kapasitas bagi para guru.

Apa yang dilakukannya itu mulai membuahkan hasil, semangat dan visinya telah mampu mendorong anak-anak kita tampil pada berbagai ajang olimpiade sains (fisika, matematika, kimia, bilologi dll) dan jarang sekali pulang tanpa menggondol medali emas. Berkat anak-anak yang dipersiapkan oleh Surya Institute ini, Indonesia boleh berdiri tegak dengan dada tengadah karena ternyata kita juga mampu bersaing dan berlaga dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang tergolong maju, meski masih banyak sekali keterpurukan terjadi di negara kita.

Yohanes Surya juga berhasil mengembangkan berbagai metoda pengajaran fisika, sehingga bidang itu menjadi menarik, tidak membosankan atau menakutkan bagi anak-anak sekolah. Bahkan visinya yang jauh ke depan adalah menciptakan 10.000 doktor (PhD) di berbagai bidang ilmu pada beberapa tahun ke depan, sehingga Indonesia akan menjadi negara maju, disegani dan terpandang. Tanpa pamrih Yohanes Surya, yang menyandang status “minoritas ganda” di republik ini (yakni keturunan etnis Tionghoa dan beragama Kristen) tanpa pamrih dan niatan ingin berkuasa berpikir dan berbuat bagi kemajuan dan keunggulan bangsa ini.

Sesungguhnya kepada orang-orang seperti Yohanes Surya itulah para elite politik dan pemimpin bangsa ini bercermin dan bertanya: apakah yang sudah saya lakukan untuk kebaikan dan kemajuan bangsa dan negara ini? Apakah saya mengerjakan ini semua dengan pamrih atau tanpa pamrih?

Jujur saja kita mulai jenuh melihat berbagai manuver yang tidak ada habisnya oleh para elite politik itu, dan semua dengan tujuan satu: berkuasa. Namun, apa mau dikata, proses ini juga harus kita ikuti karena menyangkut masa depan bangsa ini.

Sehingga melalui tajuk rencana ini kita mengingatkan para elite itu berbuat dan bekerjalah seperti orang-orang yang mau memajukan bangsa ini tanpa pamrih. Artinya, kalau nanti sudah berkuasa jangan biarkan KKN terjadi di lingkungan anda, jangan berpikir dan berpandangan sempit dan primordial, ingat bangsa ini plural dan terserak di 17.000 kepulauan Nusantara, harus berani tidak populer dalam mengambil keputusan yang mungkin tidak disenangi namun membawa kemajuan, dan di atas itu semua jangan jual bangsa ini ke pihak asing.

Pesan ini kita sampaikan kepada mereka yang kini sibuk berkomunikasi politik dan bermanuver agar tetap eling lan waspodo (sadar dan waspada) bahwa kekuasaan itu bukan sekadar untuk berkuasa, tetapi harus membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Contohlah orang-orang seperti Yohanes Surya (dan masih banyak yang lain lagi), tidak ingin berkuasa (tidak jadi caleg, mendirikan partai politik, atau mencalonkan diri menjadi cawapres), namun punya tekad kuat ingin membawa lompatan kemajuan bagi bangsanya.  (Harian Sinar Harapan 1 Mei 2009)



Error connecting to mysql