TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Emas lagi emas lagi...

Anike (kiri) dan Dhina (kanan)

Emas lagi …. emas lagi… Setelah beberapa waktu yang lalu sobat-sobatmu Michael Adrian (SMA Regina Pacis Bogor), Purnawirman (SMAN 1 Pekanbaru), Ali Sucipto (SMA Xaverius 1 Palembang) dan Andika Putra (SMA Sutomo 1 Medan) mengharumkan nama bangsa dengan meraih 4 medali emas dalam Olimpiade Fisika Asia ke-6 di Pekanbaru, Riau 24 April – 2 Mei 2005, kini sobatmu yang cewek Anike Nelce Bowaire (SMAN 1 Serui Papua) dan Dhina Pramita Susanti (SMAN 3 Semarang) berhasil meraih 2 medali emas dalam kompetisi riset tingkat dunia yang sangat bergengsi, The First Step to Nobel Prize in Physics ke-13.

Anike cewek pendiam ini meraih medali emas setelah melakukan penelitian dalam bidang Chaos. Tahu nggak kamu apa itu Chaos? Dari arti namanya Chaos itu artinya kacau, tetapi sebenarnya Chaos adalah ilmu tentang sesuatu yang kelihatannya kacau padahal didalamnya ada keteraturan. Chaos ini ada dimana-mana dari  tetesan air di keran, detak jantung manusia,  musik, aliran bola dalam permainan sepakbola, gempa bumi, hingga cuaca di bumi kita ini. Anike mencoba menjelaskan fenomena chaos ini dengan alat sederhana yaitu menggunakan pegas! Menurut Anike idenya muncul dari eksperimen dalam olimpiade fisika tahun 2004 di Korea. Pada soal eksperimen itu sebuah bola besi diikatkan pada sebuah pegas. Pegas ini kemudian diputar, ternyata gerakan bola besi ini tidak beraturan dan kelihatan kacau. Anike mencoba menganalisa ini dan memastikan bahwa gerakan ini adalah gerakan chaos. Ternyata ia berhasil. Hasil penelitian ini sangat bermanfaat, karena orang dapat menggunakan model pegas mendatar ini (model Bowaire) untuk penelitian Chaos. Hebatnya, riset ini belum pernah ada yang coba sebelumnya!

Kalau Dhina lain lagi. Dhina  tertarik pada permainan bulutangkis. Gerakan shuttlecock sangat dinikmati oleh Dhina, sehingga munculah ide untuk menganalisa gerakan shuttlecock ini. Dhina lalu membuat  video orang yang sedang bermain bulutangkis. Kemudian dengan menggunakan software komputer Dhina mengambil data kecepatan dan posisi shuttlecock dari Video ini dan mulai menganalisanya.  Dhina berpikir gaya apa saja yang bekerja pada shuttlecock ini. Ia mencoba bermacam-macam gaya dan ia menemukan bahwa gaya hambat udara dan gaya gravitasi sangat berpengaruh dalam gerakan ini. Ia juga menemukan bahwa gaya hambat udara itu sebanding dengan kecepatan linear bukan kecepatan kuadrat seperti pada gerakan bola di permainan sepakbola atau tennis. Model analisa yang dikembangkan Dhina (model Susanti) ini  sangat bermanfaat buat mereka yang akan menganalisa berbagai pukulan dalam bulutangkis seperti smash, dropshot dsb. Dan seperti Anike,  riset ini belum pernah dikerjakan orang sebelumnya. Luar biasa kan.....

Gimana sih kok Dhina dan Anike bisa menang? Pada bulan Mei 2005 Departemen Riset dan Teknologi  bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Fisika Indonesia, mengirim brosur tentang riset unggulan remaja.  Dhina dan Anike sangat tertarik pada brosur ini, lalu mereka membuat paper singkat dan mengirimnya  ke Panitia. Bulan Oktober 2005 mereka dipanggil untuk masuk 5 besar. Wuaah senengnya mereka itu.... Mereka lalu dilatih 1 minggu tentang cara melakukan penelitian yang baik dan membuat laporan yang benar. Setelah  pulang, Dhina dan Anike mulai melakukan risetnya ditempat masing-masing. Ternyata kerja keras mereka tidak sia-sia. Ketika laporan penelitian diperiksa juri, mereka dinyatakan masuk 3 besar, bersama Kridha Handaya dari SMA Taruna Nusantara Magelang. Agar bisa masuk kompetisi internasional, mereka harus memperbaiki papernya dan menterjemahkannya dalam bahasa Inggris. Mereka kerja keras siang malam dan akhirnya pekerjaan mereka selesai pada akhir maret. Hasilnya berupa paper, Anike memberi judul papernya Chaos in an Accelerated Rotating Horizontal Spring, sedangkan Dhina memberi judul Curved motion of a shuttlecock dan Krida Handaya tentang Javanese Gong.  Paper-paper ini dikirim ke Polandia kantor pusat kompetisi The First Step to Nobel Prize in Physics (The FS) 2005. Sobat-sobat kalian ini menunggu dag-dig-dug dengan cemas. Bisa dapat nggak... yah... Jurinya bukan orang sebarangan lho, semuanya professor fisika dari 23 negara... Akhirnya beberapa hari yang lalu panitia mengumumkan Dhina dan Anike sebagai medali emas. Wuah.... mereka berdua  senengnya minta ampun.... girang sekali... sampai-sampai mereka nangis waktu ditelfon. 

Disamping Anike dan Dhina  ada 2 orang lagi yang mendapat medali emas yaitu: Marina RADULASKI (dari Serbia & Montenegro) dengan papernya Trajectories Relevant for Calculation of Path Integrals in Quantum Mechanics dan  Stanley Shang CHIANG (dari Amerika Serikat) dengan papernya A Step Closer to The Quantum Computer: Fabrication of Novel Superconducting Josephson Junctions to Couple Multiple Flux States of A Quantum Bit. Hebat kan Indonesia jadi juara umum dengan merebut 2 medali emas!

Ngomong-ngomong apa sih kompetisi The FS? Kompetisi The FS adalah kompetisi bagi remaja-remaja di dunia ini yang senang meneliti dalam bidang fisika.  Pada kompetisi ini para remaja diminta untuk melakukan penelitian dengan topik-topik yang diminatinya. Kemudian hasilnya ditulis rapih dalam bahasa Inggris dan dikirim ke Polandia. Polandia menyediakan juri-juri internasional untuk memilih para pemenang. Paper terbaik berhak mendapat prize atau medali emas (biasanya antara 4-8 medali emas tiap tahun). Disamping itu untuk paper-paper yang mutunya sedikit dibawah paper ini berhak mendapat honorable mention untuk kategori research papers, kategori experiments, kategori contributions.

Kompetisi the FS sudah berlangsung 13 kali dan sudah 74 negara pernah join dalam kompetisi yang sangat bergengsi ini. Memang tidak setiap tahun, setiap negara ikut.  Hanya mereka yang mempunyai paper-paper terbaik saja yang ikut dalam kompetisi ini. Tahun ini  78 paper terbaik dari 28 negara masuk meja panitia.  Semuanya sangat bagus, sehingga juri bingung untuk menentukan hadiahnya.  Juri akhirnya menentukan 4 paper untuk medali emas (Prizes), 11 honorable mentions untuk kategori research paper, 8 honorable mentions untuk kategori contributions, dan 4 honorable mentions untuk kategori experiments.   

Indonesia secara resmi pertamakali  ikut tahun 1999. Waktu itu sobatmu dari  Bali I Made Agus Wirawan SMUN 1 Bangli berhasil menyabet  medali emas. Kemudian tahun 2004 Indonesia mengirimkan paper dari sobatmu yang lain  Septinus George Saa SMUN 3 Jayapura Papua dengan judul  Infinite Triangle and hexagonal lattice networks of identical resistor.  Paper ini ternyata juga berhasil meraih medali emas. Nama Indonesia semakin dikenal dan semakin harum. Ternyata siswa-siswa kita mampu  menjadi peneliti-peneliti hebat  tingkat dunia, tidak kalah dengan peneliti dari negara-negara lain! Hebat kan....Siapa menyusul? (***)


(Yohanes Surya)