TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
APhO 8, Mestakung dan Visi 2030


Pada tanggal 21-29 April 2007,  pelajar Indonesia Muhammad Firmansyah Kasim mengejutkan seluruh peserta Asian Physics Olympiad (APhO) ke-8 di Shanghai. Firmansyah yang masih kelas I  SMA Athirah Makasar ini mampu menembus dominasi para pelajar China, tuan rumah APhO 8 ini. Firmansyah berhasil menghilangkan mitos bahwa tidak mungkin mengalahkan China di kandangnya apalagi China sebagai penulis soal  sekaligus jurinya.  Dengan kejeniusannya Firmansyah berhasil mengerjakan soal-soal APhO yang setara dengan soal program S2/S3 fisika,  mengalahkan semua pelajar China dalam fisika eksperimen, hanya kalah sedikit dalam fisika teori. Firmansyah merebut medali emas sekaligus menempati urutan kedua dari 153 peserta/23 negara dengan nilai total 43,2 poin hanya selisih 0,1 poin dari peringkat pertama Yun Yang 43,3 poin dari China.

Dalam olimpiade fisika yang sangat bergengsi ini Indonesia berhasil merebut 2 medali emas, 4 perak dan 4 perunggu.

Hasil yang dicapai oleh putra-putra bangsa kita ini sangat luar biasa terutama jika dibandingkan dengan hasil  Olimpiade Fisika Internasional 1994 di Beijing, China dimana Indonesia tidak meraih satupun medali. Apa rahasia kesuksesan tim Indonesia ini? Rahasianya adalah Mestakung.

Mestakung (seMESTA menduKUNG) merupakan keadaan dimana semesta (sekeliling kita) mendukung kita untuk keluar dari kondisi kritis. Seberapa besarpun kondisi kritis kita, alam semesta telah diciptakan Tuhan sedemikian rupa sehingga mampu mengatur dirinya untuk membantu kita keluar dari kondisi kritis tersebut. Misalnya ketika kita dikejar  anjing galak, semesta dalam hal ini sel-sel tubuh kita mengatur dirinya, menghasilkan energi tambahan agar kita dapat keluar dari kondisi kritis. Kita yang tadinya hanya mampu melompat sejauh 1 meter tiba-tiba mampu melompat sejauh 1,5 meter atau lebih.  Atau seorang ibu yang dalam keadaan terjepit, mampu membalikkan mobil atau menerobos api hanya untuk menyelamatkan anaknya.

Dalam buku Mestakung Rahasia sukses, saya menceritakan 3 hukum mestakung  hukum KRItis, LANGkah dan teKUN yang  disingkat dengan Krilangkun.

Untuk membuat mestakung bekerja, kita harus tempatkan diri kita pada kondisi kritis. Kondisi kritis yang kami ciptakan adalah menetapkan target (goal) setinggi mungkin yaitu mengalahkan China di kandangnya. Banyak orang bilang tindakan ini terlampau berani, bombastis dan tidak realistis. Kalau kalah akan malu karena target yang ditetapkan terlalu tinggi.  Bagaimana kalau China membuat soal sedemikian sulitnya sehingga kita pulang dengan tangan hampa, apa tidak malu? Atau bagaimana kalau para pelajar kita salah menterjemahkan soal sehingga kita gagal total meraih satu medali perunggupun seperti terjadi di APhO Vietnam tahun 2004, apa kata orang? Tapi itulah yang harus kita kerjakan, kalau kita menghendaki mestakung bekerja, kita harus berani menempatkan diri kita pada kondisi sekritis mungkin.

Agar kondisi lebih kritis, maka pada tanggal 6 November 2006 waktu peluncuran buku Mestakung Rahasia Sukses kami mengundang Mendiknas, anggota DPR dan beberapa tokoh masyarakat serta pers untuk menyaksikan bagaimana 16 siswa kita yang terpilih dari Olimpiade Sains Nasional ini  berjanji akan bekerja keras untuk mengalahkan naga dikandangnya.

Pulang dari acara peluncuran buku tersebut, semangat kami terbakar. Mestakung mulai bekerja, dalam diri kami timbul suatu dorongan untuk bekerja keras mencapai target yang sangat tinggi tersebut. Kami segera menyiapkan program yang sangat ketat untuk para siswa itu. Para pembina yang terdiri dari para dosen dan alumni menyatakan sanggup untuk mensukseskan target ini.  Mestakung juga terjadi pada pendanaan pelatihan. Walau dari Depdiknas kami hanya mendapat dana sangat minim (hanya cukup untuk melatih 1-2 bulan saja), tidak seperti yang dituliskan di Kompas 20/4 dimana dikatakan depdiknas memberikan dana Rp. 100 miliar untuk TOFI (menurut  Dirjen Depdiknas ini salah kutip), secara mestakung kami mendapat bantuan dari Menko Kesra dan bapak Murdaya Poo serta PRJ kemayoran yang menyediakan fasilitas pelatihan. Mestakung juga terjadi dengan tergeraknya para pejabat, pengusaha, dan motivator Andrie Wongso mengunjungi tempat pelatihan memberikan dukungan moral

Untuk lebih membakar semangat para siswa, spanduk-spanduk bertuliskan “Indonesia juara APhO 8” “I Love Indonesia” dan lainnya dipasang. Untuk menambah percaya diri, para siswa diminta untuk berulangkali mengatakan kalimat-kalimat seperti “sehebat apapun China, kami pasti bisa mengalahkannya” “sehebat apapun China, Indonesia juara APhO”.

Hasilnya ternyata luar biasa, dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan terlihat banyak sekali peningkatan kemampuan para siswa kita. Materi fisika selevel S1 bahkan S2/S3 dilalapnya sedikit demi sedikit. Soal-soal ujian komprehensif untuk program S3 dari berbagai universitas terkenal di dunia dikerjakan satu persatu. Mereka belajar dan belajar dari pagi hingga jauh tengah malam. Hampir tidak ada waktu libur. Keyakinan untuk menang makin lama makin kuat. Satu bulan sebelum keberangkatan, kami tertantang untuk tinggal bersama mereka (inipun karena mestakung), meninggalkan semua aktifitas yang lain, merasakan bagaimana tidur di ruko, ikut begadang, koreksi soal, mencari bahan test. Dari pagi hingga malam pikirannya hanya satu yaitu bagaimana menjadi juara, juara dan juara.

Dengan percaya diri yang tinggi, tim Indonesia berangkat ke China. Keyakinan untuk mengalahkan China begitu besar. Hasilnya seperti  dikatakan di atas, kita unggul dalam fisika eksperimen dan bersaing ketat dalam fisika teori. Hasil ini merupakan bekal yang besar untuk bertanding di olimpiade Fisika dunia, Iran 13-21 Juli 2007 mendatang.  

Nah sekarang apa hubungan APhO dan mestakung diatas dengan visi 2030 yang dicanangkan oleh Presiden SBY? Pencanangan Visi 2030 dimana Indonesia tahun 2030 akan menjadi salah satu dari 5 kekuatan ekonomi dunia merupakan tindakan yang sangat berani dan patut diacungi jempol. Pencanangan visi ini  menempatkan pemerintah pada kondisi kritis. Kalau dalam beberapa tahun mendatang ini tidak ada suatu kemajuan apa-apa maka pemerintah akan dikritik habis dan akan dikatakan hanya pandai omong belaka. Ini bagus! Ini akan memaksa pemerintah bertindak! Menurut teori Mestakung, jika pada kondisi kritis kita diam saja, maka kondisi kritis itu akan menghabiskan/menyengsarakan/membinasakan kita. Kita harus melangkah dan melangkah, tidak boleh berhenti. Harus tekun sampai kondisi kritis ini lewat (sampai tujuan kita tercapai).

Saatnya sekarang pemerintah bertindak, membuat strategi yang jelas untuk mencapai visi 2030 ini. Semua pejabat tanpa kecuali harus kompak, bekerja bersama-sama untuk mencapai visi 2030 ini. Jika kita melangkah dan melangkah dengan tekun, kita akan melihat bagaimana mestakung bekerja dimana setiap orang akan terdorong untuk bersama-sama mencapai visi ini, industri secara ajaib akan berkembang, para investor akan ramai-ramai menanamkan modal di Indonesia, ekonomi akan berkembang secara luar biasa.  Ini bukan mimpi! Mestakung akan membuat visi 2030 ini terealisir. Indonesia akan menjadi negara kaya dan makmur dimana rakyatnya hidup sejahtera. Tidak ada yang tidak mungkin. Semua bisa terjadi.(***)

(Yohanes Surya)