TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Ekonomi Non Linier & Prospek Pemulihan Kondisi Ekonomi di Indonesia


            Krisis yang terjadi di dunia perekonomian Asia telah menunjukkan kegagalan pendekatan-pendekatan ortodoks yang biasa digunakan dalam prediksi pergerakan ekonomi. Kegagalan ini menggambarkan krisis di dalam tubuh ekonomi itu sendiri. Peristiwa ini dengan jelas menunjukkan bahwa suatu sistem yang semula sangat stabil dapat tiba-tiba berubah menjadi kacau dan terlihat tidak beraturan. Topik ini merupakan tema utama yang diangkat dalam buku Butterfly Economics, yang ditulis oleh Paul Ormerod, dengan menggunakan peristiwa dramatis di dunia ekonomi yang terjadi beberapa tahun terakhir di Asia sebagai ilustrasinya.

Ekonomi merupakan suatu sistem kompleks yang dikatakan living at edge of chaos karena adanya berbagai ketidakpastian dalam prediksi kelakuannya untuk jangka waktu yang singkat. Suatu kestabilan yang sudah dipertahankan untuk jangka waktu lama dapat dengan mudah dikacaukan hanya dengan suatu peristiwa kecil yang seharusnya, menurut pendekatan konvensional, tidak dapat memberikan pengaruh sebesar itu. Di lain pihak suatu peristiwa besar, yang menurut teori klasik sangat besar pengaruhnya bagi pergerakan ekonomi, terkadang justru tidak banyak membawa perubahan. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa pendekatan-pendekatan konvensional sudah tidak dapat digunakan lagi tanpa mengaplikasikan berbagai perkembangan baru yang memperlakukan ekonomi sebagai sesuatu yang memiliki sifat organik.

Pendekatan ortodoks menggambarkan ekonomi sebagai suatu keadaan yang terisolasi bagaikan suatu atom yang menyendiri tanpa ada interaksi, terkotak-kotak dalam ruang lingkupnya sendiri dalam usaha memaksimalkan potensi individualnya (self interest). Konsep semacam ini memandang ekonomi hanya sebagai sebuah mesin yang komponen-komponennya tersusun rapi sehingga dapat diprediksikan perilakunya secara  akurat.

Cara pandang yang terasa aman dan nyaman untuk digunakan ini ternyata salah total. Masalah-masalah ekonomi dan sosial justru dapat dipandang sebagai suatu bentuk kehidupan yang selalu beradaptasi dan berkembang. Ekonomi tidak seperti mesin, melainkan lebih mendekati bentuk organisme hidup yang masing-masing individunya berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam suatu sistem yang kompleks.

Interaksi antar individu ini dapat diamati secara jelas dalam perkembangan di dunia fashion, film, dan restoran. Gaya berbusana yang baru dapat tiba-tiba menjamur dan menjadi tren karena adanya interaksi sosial di antara para konsumen awalnya yang kemudian mempengaruhi lingkungannya. Film terbaru dari bintang yang paling terkenal dapat gagal di pasaran hanya karena penonton di hari pertama pemutarannya tidak menyukai film tersebut dan menyebarluaskan rasa tidak puas mereka. Contoh-contoh kecil ini menunjukkan bahwa sesungguhnya interaksi antar individual yang masing-masingnya hanya merupakan komponen kecil masyarakat sosial justru dapat memberi dampak yang lebih dramatis. Kejadian-kejadian kecil justru menjadi awal mula suatu fenomena besar sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja.

Dalam dunia ekonomi hal-hal seperti ini pun selalu terjadi. Jepang, yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat fantastis pada tahun 1950-1960 bahkan sampai tahun 1970, pernah tiba-tiba mengalami masalah serius. Semula masalah perekonomian di Jepang ini diperkirakan akan mempengaruhi perekonomian Asia secara keseluruhan karena Jepang merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia saat itu. Tetapi peristiwa besar ini justru tidak banyak membawa perubahan bagi perekonomian negara-negara lain di Asia. Kejadian yang pada akhirnya menyebabkan resesi ekonomi terbesar di Asia sepanjang abad ke-20 justru berasal dari permasalahan beberapa bank di Thailand. Masalah ini sebenarnya relatif kecil jika dibandingkan dengan masalah jatuhnya perekonomian Jepang.

Penyebab permasalahan ekonomi di Jepang adalah kegagalan mereka untuk memperkirakan batas maksimal dari jumlah barang/benda yang dibutuhkan oleh masyarakat. Jepang dengan giat memproduksi berbagai benda-benda kebutuhan hidup yang selama beberapa dekade mengalami kesuksesan dalam pemasaran karena kualitas yang tinggi dan penggunaan teknologi yang canggih. Ternyata setelah beberapa dekade daya konsumsi masyarakat berkurang drastis. Hal ini bukan dikarenakan daya beli yang berkurang tetapi karena masyarakat sudah tidak lagi membutuhkan benda-benda tersebut karena mereka sudah memilikinya secara lengkap bahkan berlebihan. Sebagai contohnya, suatu keluarga yang memiliki sebuah mobil biasanya tetap menginginkan dan membutuhkan mobil kedua. Tetapi tidak banyak yang membutuhkan mobil ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Begitu pula dengan video; satu sampai dua video untuk tiap keluarga memang masih cukup umum, tetapi tidak banyak keluarga yang menginginkan tiga, empat, ataupun lima video di rumahnya. Hal ini berlaku untuk hampir semua benda-benda kebutuhan rumah tangga yang merupakan produksi utama dan andalan Jepang saat itu. Kejatuhan ekonomi terjadi karena masyarakat sudah merasa tercukupi sehingga tidak banyak menjadi konsumen seperti ketika benda-benda tersebut pertama kali dipasarkan. Amerika Serikat berhasil menghindarkan diri dari situasi semacam ini karena titik berat mereka yang utama bukan pada produksi barang/benda melainkan pada pelayanan (service) yang batas konsumsinya tidak seperti batas konsumsi benda.

Saat terjadi permasalahan ekonomi di Jepang, yang merupakan kekuatan ekonomi yang paling dominan di Asia, negara-negara Asia lainnya justru tetap dianggap memiliki potensial tinggi untuk perkembangan ekonomi. Optimisme ini terutama diarahkan pada negara-negara berkembang. Kemajuan ekonomi memang terus terjadi di Asia sampai saat terjadinya krisis terbesar yang ternyata disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lokal di Thailand. Banyak pihak yang sebelumnya mengira bahwa permasalahan bank di Thailand itu hanya akan mempengaruhi ruang lingkup lokal di negara itu saja. Sebaliknya, yang terjadi justru terganggunya kestabilan nilai tukar mata uang di semua negara-negara berkembang di Asia yang pada akhirnya menghantarkan Asia pada krisis ekonomi berkepanjangan.

Ilustrasi ini sangat tidak sesuai dengan cara pandang ortodoks yang memperlakukan ekonomi bagaikan sebuah mesin yang menganggap bahwa peristiwa besar selalu memicu timbulnya dampak yang juga besar, sedangkan peristiwa-peristiwa kecil yang dianggap terisolasi dan terlokalisasi hanya membawa pengaruh kecil yang dapat diabaikan. Kenyataan yang terjadi justru menggambarkan ekonomi yang memiliki sifat organik, dengan kejadian paling kecil sebagai penyebab masalah terbesar, dan peristiwa besar justru tidak banyak membawa dampak bagi lingkungannya.

Keadaan ekonomi Asia memang sangat rapuh dan sensitif. Tetapi di balik segala kerapuhannya ada optimisme yang sangat nyata terlihat bagi perkembangan dan kemajuannya di masa mendatang. Dari data-data yang ada, peristiwa krisis ekonomi semacam ini hanya merupakan gejolak kecil dari kecenderungan pola yang justru menunjukkan peningkatan secara keseluruhan. Sebagai contoh, data pendapatan per kapita di Amerika Serikat selama tahun 1870 sampai 1997 menunjukkan kecenderungan peningkatan yang luar biasa. Resesi ekonomi yang terjadi di Amerika pada tahun 1930-an hanya terlihat sebagai fenomena kecil yang hampir tidak teramati jika dibandingkan dengan peningkatan yang terjadi secara konstan selama kurun waktu 1870-1997. Fenomena semacam ini juga dapat diamati pada data persentasi rasio antara Jepang dan Amerika Serikat selama tahun 1900-1998. Kenaikan persentasi ini sangat besar dan memiliki kecenderungan untuk terus naik. Masalah perekonomian yang dialami Jepang pun terlihat sangat kecil dibandingkan keseluruhan peningkatan yang terjadi, dan peningkatan ini pun terjadi secara konstan dan terus-menerus.

Masa-masa pemulihan resesi ekonomi memang membutuhkan waktu. Usaha untuk memperlakukan ekonomi sebagai mesin yang dapat dikendalikan secara akurat hanya akan membawa kegagalan karena ekonomi bukanlah mesin, melainkan organisme hidup yang terus berkembang dan beradaptasi. Hal ini sangat penting untuk segera disadari oleh pemerintah di negara-negara Asia agar mereka pun dapat cepat mengenali potensi mereka menuju kemakmuran dan kesejahteraan.(***)




(Yohanes Surya)