TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Jalan Menurun Tapi Mundur


Tanya: Salam Pak Yohanes,Teman saya pernah bercerita, saat pergi ke Saudi Arabia ia mengendarai mobil menuruni sebuah bukit (saya lupa nama bukitnya). Kalau secara logika, yang namanya mobil menuruni bukit tentu semakin lama jalannya akan semakin cepat meskipun kita tidak menginjak pedal gas. Tapi, menurut teman saya, mobil yang dikendarainya berjalan lambat sekali, bahkan sewaktu digas. Ketika dia mematikan mesinnya, ternyata mobilnya malah berjalan mundur. Aneh, bukankah kalau mobil bergerak mundur, berarti jalan itu menanjak? Dia menduga, ada semacam medan magnet pada bukit yang jauh di belakangnya.
Bagaimana Bapak bisa menjelaskan hal ini? 
(Ira K.S., di Jakarta)


Jawab: Alasan menggunakan medan magnet sebagai penyebab keanehan itu tidak masuk akal. Coba telaah, pada jarak yang jauh medan magnet tidak mungkin menarik mobil sekuat itu. Kalaupun ada medan magnet yang sangat kuat di bukit yang ada di belakangnya (sehingga mampu "menyedot" mobil yang tentunya berbobot ratusan kilogram), tentu seluruh benda di sekitar yang terbuat dari besi dan nikel akan tertarik oleh bukit itu. Bukit itu tentu akan penuh dengan nikel dan besi. Alasan kedua, sulit untuk menjelaskan secara fisika bagaimana magnet terbentuk di satu bukit tetapi di bukit tetangganya (tempat mobil tadi berada) sama sekali tidak ada magnet.
Kemungkinan terbesar adalah jalan yang dilewati itu sebenarnya menanjak walaupun kelihatan menurun. Ini disebabkan organ keseimbangan memberikan informasi yang salah pada otak kita akibat keterbatasan kemampuan alat indera kita. Ketika menuruni suatu bukit untuk waktu yang cukup lama, kita akan merasa sedang menanjak jika kemiringan bukit tiba-tiba berkurang.



(Yohanes Surya)