TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Bayangan Cermin


Tanya: Saya senang sekali dengan adanya rubrik ”Fenomena” ini. Melalui rubrik ini saya ingin bertanya soal cermin. Kalau kita bercermin, maka yang terbalik hanya sesuatu yang berarah horisontal, misalnya kata CERMIN akan terbalik secara hori-sontal. Tetapi tidak terbalik secara vertikal (atas menjadi bawah dan bawah menjadi atas). Mengapa hal itu bisa terjadi? (Irena Cisya Rosinta, di Yogyakarta)

Jawab: Cermin tidak membalik sesuatu berarah horizontal atau vertikal. Coba tempatkan di depan cermin sebatang anak panah pada posisi horizontal dari arah kiri ke kanan. Bayangan anak panah itu tetap mempunyai arah dari kiri ke kanan, tidak terbalik dari kanan ke kiri. Demikian juga jika anak panah itu diletakan vertikal ke atas. Arah yang ditunjukkan bayangan anak panah tetap vertikal ke atas, tidak terbalik.

Cermin sebenarnya membalik masuk/keluar. Artinya, jika anak panah diarahkan ke dalam cermin maka bayangannya akan mengarah ke luar cermin, dan sebaliknya. Ini berdasarkan sifat cermin yang memantulkan cahaya yang datang.

Miskonsepsi kiri-kanan terjadi karena kita terbiasa bicara dengan lawan bicara kita secara berhadapan. Ketika kita berhadapan, bagian kiri kita sejajar dengan bagian kanan lawan bicara kita dan sebaliknya. Jadi, ketika bercermin, se-olah-olah kita berhadapan dengan ”lawan bicara”, sehingga timbullah persepsi bahwa telah terjadi pembalikan kiri-kanan



(Yohanes Surya)