TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Kemampuan untuk Bertahan Hidup


Tanya: Beberapa waktu yang lalu, di televisi ditayangkan pesulap dan mentalis asal Amerika, David Blaine (30), yang digantung di sebuah kotak kaca di sebuah tempat yang bersebelahan dengan Tower Bridge, tepi Sungai Thames, London. Hanya ada selang yang mengucurkan air dalam jumlah yang terbatas. Dengan konsumsi segitu, David Blaine bisa bertahan selama 44 hari. Timbul pertanyaan dalam hati saya, sebenarnya berapa lama orang bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum?  (Putra Aryasa, di Jakarta)

Jawab: Tanpa makan dan minum orang hanya mampu bertahan 40 - 50 hari. Ketika orang tidak makan dan tidak minum dalam jangka waktu yang panjang, otak tidak da-pat bekerja, organ-organ tubuh lumpuh dan ini dapat mengakibatkan kematian.

Agar dapat berfungsi dengan baik otak kita membutuhkan glukosa sebanyak 120 g/hari. Glukosa bisa diperoleh dari makanan yang kita konsumsi. Jika tidak mendapat makanan, tubuh dapat memperoleh glukosa dengan meme-cah glikogen dan lemak. Glikogen dapat langsung diubah jadi glukosa, sedangkan lemak diubah dulu menjadi asam lemak dan gliserol. Gliserol sendiri dapat diubah menjadi glukosa untuk otak, sedangkan asam lemak digunakan untuk sel-sel tubuh.

Setelah lewat tiga hari kelaparan, tubuh kita mulai memanfaatkan badan-badan keton yang dihasilkan dari asam lemak. Badan-badan keton ini dapat dipecah menjadi dua molekul acetyl CoA yang dapat dimanfaatkan otak se-hingga dapat memotong kebutuhan glukosa dari 120 g/hari menjadi 30 g/hari. Kebutuhan 20 g/hari glukosa bisa diperoleh dari gliserol dan sisanya 10 g/hari diharapkan dapat diperoleh dari protein.

Ketika konsentrasi insulin rendah, sel mulai memecah protein. Asam amino dari protein ini masuk aliran darah dan diubah menjadi glukosa di jantung. Untuk memenuhi kekurangan 10 g/hari glukosa, dibutuhkan 30 g protein per harinya. Kekurangan protein dalam sel membuat sel-sel tidak dapat bekerja dengan baik, otak tidak dapat bekerja, organ-organ tubuh lumpuh dan dapat mengakibatkan kematian.



(Yohanes Surya)