TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Makhluk Dasar Laut tak Butuh Oksigen?


Tanya: Prof. Yo, to the point saja. Pada tayangan sebuah acara di TV mengenai kehidupan makhluk-makhluk yang berada jauh di bawah dasar laut, saya menyaksikan adanya fenomena gunung berapi yang menggelegak yang masih aktif di dasar laut dan cukup banyak kehidupan makhluk di dasar laut.
Pertanyaan saya, apakah makhluk hidup laut yang berada jauh di dasar laut itu memerlukan oksigen untuk hidup? Kalau iya, bagaimana oksigen itu diperoleh? Kalau harus muncul ke permukaan laut untuk menghirup oksigen, rasanya tidak mungkin mengingat jaraknya cukup jauh. Apakah ada makhluk hidup yang tidak memerlukan oksigen?
Terima kasih atas jawaban yang diberikan. (Indra Pratama di Sumut)

Jawab: Langsung jawab juga ya. Menurut penelitian, di dasar laut ada sekitar 300 jenis makhluk hidup yang digolongkan dalam kelompok hewan seperti udang buta, kepiting putih raksasa, dan berbagai jenis cacing (tubeworms). Tumbuhan tidak bisa hidup di dasar laut ini karena tidak ada cahaya Matahari untuk terjadinya proses fotosintesis.
Hewan-hewan ini hidup di sekitar hydrothermal vent (tempat di dasar laut bagi lapisan magma memancar keluar) melalui proses chemosyntesis. Caranya adalah mikroba-mikroba kecil mengambil sulfur dari hidrogen sulfida yang memancar keluar dari hydrothermal vent. Sulfur kemudian dioksidasi dengan menggunakan oksigen dari air laut untuk menghasilkan energi yang selanjutnya digunakan untuk memproduksi gula, lemak, asam amino, dan nutrisi lainnya.
Mikroba-mikroba dan hewan-hewan di sekitarnya akan membentuk suatu rantai makanan yang menjamin kelangsungan hidup di sekitar hydrothermal vent ini. Dalam rantai makanan ini sejenis keong (gastropod snail) akan memakan mikroba atau bakteri-bakteri ini. Setelah kenyang, keong-keong itu pasrah sebagai mangsa udang-udang kecil. Udang-udang kecil pun senasib dengan keong tadi, menjadi mangsa makhluk yang lebih "berkuasa" dalam rantai makanan, yakni ikan-ikan pemangsa yang lebih besar.
Yang masih jadi pertanyaan dari para peneliti ini adalah bagaimana makhluk-makhluk hidup ini bermunculan secara tiba-tiba ketika suatu hydrothermal vent terbentuk.



(Yohanes Surya)