TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Kenapa Tak Ada Pelangi Segi Empat


Tanya: Halo Profesor Yo? Apa kabar? Meski bulan sudah Juni, tapi hujan masih mau turun juga. Sehubungan dengan hujan, saya jadi teringat akan pertanyaan yang masih menggantung di benak saya. Mengapa pelangi yang tampak (biasanya muncul setelah hujan reda) selalu berbentuk melingkar atau setengah lingkaran? Mengapa tidak memilih bentuk lain saja seperti segitiga atau persegi empat begitu? Saya pernah melihat pelangi yang tampak di sekitar air terjun berbentuk lingkaran.

Jangan ditertawakan ya pertanyaan saya ini Prof.! (Obeth, di Yogyakarta)

Jawab: He-he-he .... Saya tertawa bukan karena pertanyaannya tapi karena larangannya itu lo! Oke, tak usah diperpanjang tertawanya, nanti jadi lupa menjawab pertanyaan Obeth yang katanya masih menggantung.
Memang benar, pelangi biasa terjadi sehabis hujan. Sebab, sehabis hujan di udara banyak sekali tetes-tetes air yang berbentuk bulat. Ketika mengenai tetes air ini, cahaya Matahari akan dibiaskan masuk ke dalam tetes. Di dalam tetes air, cahaya dipantulkan kemudian dibiaskan keluar dari tetes. Selama proses pembiasan, cahaya Matahari akan terurai menjadi berbagai warna. Itu sebabnya sinar yang keluar dari tetes air itu berwarna-warni.

Soal bentuk yang dipilih yakni busur, ada dua alasan. Yang pertama, tetes air berbentuk bulat. Bulatnya tetes air menyebabkan arah sinar biasnya tetap sama, bagaimana pun letak (orientasi) tetes air ini. Kedua, cahaya yang masuk ke dalam tetes air dibiaskan dengan sudut tertentu. Sinar yang dibiaskan dengan sudut terlalu besar atau terlalu kecil tidak dapat dilihat oleh mata. Akibatnya, sinar-sinar bias yang tertangkap oleh mata terlihat seperti sebuah pita berwarna-warni yang melengkung.
Bagaimana, sekarang pertanyaan sudah jatuh dari benak belum? He-he-he



(Yohanes Surya)