TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Sudah Tua masih Ngompol


Tanya: Seperti anak-anak yang lain, sewaktu masih kecil saya sering ngompol. Kebiasaan ini terjadi kadang-kadang tanpa saya sadari. Artinya, waktu mengompol saya tidak ingat apa-apa, tahu-tahu begitu bangun celana sudah basah. Namun, ada kalanya kejadian itu diawali dengan "mimpi" buang air kecil terlebih dulu. Di dalam "mimpi" itu, waktu terasa akan buang air kencing, saya sudah berusaha sembunyi di tempat yang sepi atau terlindung. Tidak bakalan ada orang yang tahu. Begitu bangun, tahu-tahu sudah mengompol.

Setelah besar, kebiasaan itu hilang dengan sendirinya. Namun, ada juga kebiasaan "mimpi" mengompol itu terbawa sampai tua, bahkan sudah jadi nenek atau kakek belum juga hilang. Ini berdasarkan pengakuan mereka yang sudah sama-sama tua.
Dapatkah Prof. menjelaskan apa sebabnya? Apa yang harus dilakukan para manula yang masih memiliki kebiasaan seperti itu?
Atas penjelasan Prof., saya ucapkan terima kasih.
(Soetjipto, di Magelang)

Jawab: Penyakit ngompol atau dikenal dengan enuresis memang menjengkelkan. Kita akan ketambahan pekerjaan mengganti seprei dan menjemur kasur yang kena ompol. Penyebabnya masih dipertanyakan orang. Sebagian peneliti menyatakan, penyebabnya adalah faktor keturunan, karena sekitar 70% orang yang kena enuresis ini orangtuanya juga begitu.
Namun, peneliti lain menyatakan, enuresis disebabkan oleh penyakit tertentu yang diidap orang seperti diabetes, anemia, atau epilepsi. Beberapa gejala psikologis juga dapat menyebabkan orang mengompol.
Pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Biasanya, para dokter menggunakan berbagai terapi seperti terapi memperbesar kandung kemih, terapi motivasi, terapi diet, dsb. Dalam terapi motivasi dokter biasa memotivasi anak untuk buang air kecil dulu sebelum tidur, atau menggunakan semacam sensor di pakaian tidurnya. Sensor ini akan membangunkan anak ketika air seni mulai keluar.
Dalam terapi memperbesar kandung kemih penderita disarankan untuk minum banyak, tetapi memperlama jarak antara kencing pertama dengan kencing berikutnya. Pengobatan lain dengan obat-obatan (termasuk obat tradisional seperti tanaman ekor kuda), hipnotis, dsb.



(Yohanes Surya)