TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Awal yang Manis di IJSO


Pada hari Senin tanggal 13 Desember 2004 kemarin Indonesia mencatat sejarah baru. 12 anak Indonesia yang masih imut-imut tiba-tiba menjadi pahlawan pengharum nama bangsa. Hmmm… apa yang mereka lakukan sampai-sampai mereka dianggap pahlawan? Mereka kan masih kecil!

Umur boleh muda, tapi prestasi sudah selangit! 12 anak yang masih duduk di bangku SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) ini berhasil mencatatkan nama mereka sebagai pemenang International Junior Science Olympiad (IJSO) yang baru diadakan untuk pertama kalinya. Ilmuwan-ilmuwan junior kita ini berhasil merebut 8 medali emas dan 4 medali perak di ajang IJSO yang digelar di Jakarta pada tanggal 5-14 Desember 2004. WOW!!! 8 MEDALI EMAS!!! Siapa sangka mereka yang masih imut-imut itu bisa bersaing melawan siswa-siswa dunia dalam ajang adu otak? Dari 12 anak yang mewakili Indonesia, tidak ada satu pun yang tidak mendapat medali, padahal acara internasional ini baru diadakan untuk pertama kalinya. Stephanie Senna, salah satu gadis manis yang mewakili Indonesia dalam IJSO I ini, bahkan mendapat penghargaan tambahan sebagai The Best Experimental Winner karena dia berhasil mendapat nilai tertinggi pada ujian eksperimen. Bahkan nilainya bukan hanya nilai tertinggi, tetapi nilai sempurna! Sedangkan Diptarama, anak Indonesia yang masih sangat imut-imut, menyabet gelar yang paling direbutkan: The Absolute Winner. Si imut ini menjadi juara!!! Dari hasil ini pun kita tidak heran lagi sewaktu tim Indonesia dinobatkan sebagai Juara Umum!!! Awal yang begitu manis! Hebat sekali ya mereka! Kecil-kecil sudah jadi juara Olimpiade Internasional. Kok bisa sih?

Diptarama (SLTPN 252 Jakarta), Stephanie Senna (SLTPK IPEKA Tomang, Jakarta), Aziz Adi Suyono (SLTP 9 Cilacap, Jawa Tengah), Wayan Wicak Ananduta (SMPN 1 Bekasi, Jawa Barat), Ria Ayu Pramudita (MTsN Malang 1, Jawa Timur), Fransiska Putri Wina Hadiwidjana (YPJ Kuala Kencana, Papua), Achmad Furqon (SMP Bina Insani Bogor, Jawa Barat), Carolina Jessica (SLTP Xaverius 1, Palembang), Dewi Kusumawati (SLTPN 1 Seputih, Surabaya), Petrus Yesaya Samori (SLTPN 11 Jayapura, Papua), William (SLTP Sutomo 1 Medan), dan Andika Afriansyah (SLTP Nusantara, Makasar) masuk ke pusat pelatihan di Lippo Karawaci pada tanggal 9 Februari 2004. Anak-anak yang masih polos ini banyak yang menangis karena harus berjauhan dari orang tua mereka. Ada yang tidak mau makan karena tidak ada makanan yang biasa dimakan di rumahnya, ada yang kangen keluarga dan teman-teman, dan ada yang kebingungan karena harus mulai belajar hidup mandiri di pusat pelatihan. Hari-hari pertama benar-benar penuh kesulitan karena anak-anak kecil ini harus belajar adaptasi dengan lingkungan baru mereka. Setiap hari mereka belajar Fisika, Kimia, dan Biologi. Materi-materi pelajaran yang tampak ‘menakutkan’ itu diajarkan dengan metode khusus sehingga mudah dimengerti. Sambil belajar sains, teman-teman kita ini juga mulai belajar mengurus diri sendiri. Yang tadinya tidak mau makan akhirnya mulai makan. Yang tadinya kebingungan akhirnya mulai tenang. Pelan-pelan mereka mulai terbiasa hidup di pusat pelatihan ini. Mereka kemudian dibagi menjadi dua tim: Indonesia 1 dan Indonesia 2. Masing-masing tim terdiri dari 6 orang.

Akhirnya Desember pun tiba. Siswa-siswa dari berbagai negara mulai berdatangan. Ada 30 negara yang ikut berpartisipasi dalam IJSO I ini. Masing-masing negara mengirimkan maksimal 6 siswa. Pada tanggal 6 Desember 2004 semua siswa negara peserta dan pembimbing mereka mendapat kesempatan untuk bertemu dengan presiden baru kita, Bapak Susilo Bambang Yudoyono, dalam Upacara Pembukaan IJSO I di Istana Negara. Ilmuwan-ilmuwan kecil itu senang sekali bisa bertemu dan bersalaman dengan Pak Presiden kita yang baru. Upacara Pembukaan ini digelar di ruang yang biasanya digunakan oleh orang-orang penting, para raja dan pemimpin negara di seluruh dunia! Wah, ruangan yang penuh sejarah! Pak Presiden kita benar-benar menganggap semua siswa dan pembimbing mereka ini sebagai orang penting dan istimewa!

Sesudah bertemu Pak Presiden, para siswa mulai dikarantina. Esok harinya, petualangan seru pun dimulai. Siswa-siswa mulai berperang dalam ujian kompetisi (Test Competition) yang terdiri dari 25 soal pilihan ganda. Soal-soal Fisika, Kimia, dan Biologi itu dilahap dengan mudah oleh tim Indonesia. Dua hari kemudian, tiba waktunya untuk ujian teori (Theoretical Examination). Para ilmuwan masa depan kita juga melahap soal-soal esai ini dengan mudah. Dua hari setelah itu, giliran ujian eksperimen (Experimental Examination). Nilai dari masing-masing ujian ini dijumlahkan untuk mendapatkan nilai total (nilai maksimum 100). Ternyata total nilai yang diraih Diptarama (tim Indonesia 1) mencapai 93,10. Wow! Tinggi sekali nilainya! Pantas saja dia menjadi Absolute Winner. Di urutan kedua ada rekan satu timnya, Stephanie Senna, dengan nilai 90,20. Wah, tipis sekali bedanya! Aziz Adi Suyono (Indonesia 1) bertengger di tempat ketiga dengan nilai 87,95, diikuti oleh Achmad Furqon dari tim Indonesia 2 dengan nilai 86,75. Andika Afriansyah (Indonesia 1) mengekor di tempat kelima dengan nilai 86,45. Posisi keenam ditempati oleh Ying-Yu Ho, siswa dari Taiwan, dengan nilai 84,80. Posisi ketujuh, delapan, dan sembilan direbut oleh siswa Thailand, Taiwan, dan Korea. Wayan Wicak Ananduta dari tim Indonesia 2 berhasil menduduki posisi kesepuluh dengan total nilai 76,82, dengan diikuti Ria Ayu Pramudita (Indonesia 2) yang mengantongi nilai 76,70. William dari tim Indonesia 1 mengumpulkan nilai 75,40 dan berada di urutan dua belas dari total delapan belas peraih medali emas. Dewi Kusumawati dari tim Indonesia 2 meraih medali perak dengan total nilai 67,10 (berada di posisi 22 dari total 110 peserta), diikuti oleh Petrus Yesaya Samori (Indonesia 1) dengan nilai 66,80. Fransiska Putri Wina Hadiwidjana dari Indonesia 2 mengantongi nilai 61,95 dan berada di posisi 26, dan Carolina Jessica bertengger di posisi 28 dengan nilai 59,60. Hasil yang fantastis!!! Tim Indonesia pun dinobatkan sebagai Juara Umum karena berhasil meraih medali emas terbanyak. Juara kedua ditempati oleh Taiwan yang berhasil meraih 5 medali emas. Thailand merebut juara ketiga dengan menggondol 2 medali emas.

Indonesia kembali dikejutkan saat pengumuman pemenang Penghargaan Khusus (Special Awards). Stephanie Senna dari Indonesia 1 dinobatkan sebagai The Best Experimental Winner karena berhasil mendapatkan nilai sempurna pada ujian eksperimen. Gadis manis yang lugu ini tidak membuat satu pun kesalahan pada ujian eksperimen yang menggabungkan pengetahuan Fisika, Kimia, dan Biologi itu. Total nilainya pada ujian teori hanya berbeda sedikit dari total nilai Hui-Ju Chiang, siswa Taiwan yang dinobatkan sebagai The Best Theoretical Winner.

Wah, prestasi teman-teman kita ini benar-benar hebat! Ternyata usaha dan jerih payah mereka selama berbulan-bulan membuahkan hasil manis yang tidak terlupakan. Ada yang tertarik untuk mengikuti jejak mereka dan memenangkan medali emas di IJSO II tahun depan?



(Prof. Yohanes Surya, Ketua Tim Pembina IJSO)