TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Sejarah Asian Physics Olympiad

Logo First Asian Physics Olympiad, Indonesia

Asian Physics Olympiad (APhO) merupakan pertandingan fisika antar para pelajar terbaik (SMA) di Asia. APhO  diprakarsai oleh Yohanes Surya dan Waldemar Gorzkowski almarhum (mantan Presiden International Physics Olympiad) sebagai persiapan anak-anak di Asia untuk menghadapi kejuaraan dunia fisika (International Physics Olympiad /IPhO).

Aturan distribusi medali di APhO berbeda dengan di IPhO. Pada APhO medali emas diberikan pada mereka yang mendapat nilai 90 % dari 3 rata-rata nilai teratas, Perak 78 % dan Perunggu 65 %. Sedangkan pada IPhO mereka yang berada pada urutan 6 % dari jumlah peserta mendapat medali emas, kemudian 12 % perak dan 18 % perunggu.

Menurut para peserta, mendapat medali emas di APhO lebih sulit dibandingkan di IPhO. Karena itu kadang kala para peserta merasa bangga sekali kalau bisa mendapat medali emas di APhO dan IPhO sekaligus.

            Tahun 2000, Indonesia menjadi pionir sekaligus tuan rumah untuk Olimpiade Fisika Asia  pertama (Asian Physics Olympiad atau APhO I). Mimpi awal dari Olimpiade Fisika Asia sebenarnya berasal dari Prof. Waldemar Gorzkowski almarhum, presiden Olimpiade Fisika Internasional. Saat itu beliau mencoba mengontak berbagai negara asia untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Fisika Asia I, namun tidak ada yang berminat. Akhirnya Waldemar menghubungi Yohanes Surya, dan kebetulan Yohanes Surya juga memiliki mimpi yang sama.

Yohanes Surya nekat untuk mengambil tawaran ini sekaligus menjadikan Indonesia pionir untuk Olimpiade Fisika Asia. Pada titik ini Yohanes Surya menempatkan diri pada kondisi kritis dalam konteks Mestakung dan berharap mestakung akan terjadi. Saat itu belum ada komitmen dari mana pun tentang siapa yang akan membiayainya. “Betapa beraninya mengambil risiko ini!”

Justru itulah kata kuncinya. Keberanian dan tindakan nekat akan melahirkan mestakung. Saat itu Yohanes Surya ingin Olimpiade Fisika Asia diadakan secara besar-besaran. Olimpiade ini akan digunakan bukan untuk pertandingan fisika saja tetapi akan digunakan untuk menjadikan fisika semakin populer di Indonesia.

Sesuai dengan 3 hukum Mestakung, jika kita terus tekun melangkah maka mestakung akan terjadi. Selama proses persiapan hingga pelaksanaan,  terjadi  banyak mestakung dalam merealisasikan mimpi tersebut. Ide dan tindakan nekat ini didukung oleh mahasiswa dan dosen-dosen Universitas Pelita Harapan tempat Yohanes Surya mengajar saat itu. UPH dan SPH (Sekolah Pelita Harapan) bersedia menjadi lokasi Olimpiade Fisika Asia mulai dari pembukaan hingga penutupan. Secara luarbiasa, Presiden RI tahun itu, K.H. Abdurrahman Wahid, bersedia membuka Olimpiade Fisika Asia pertama ini. Sedangkan Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri didaulat menutup Olimpiade Fisika yang diikuti oleh 10 negara Asia: Indonesia, Taiwan, China, Singapura, Filipina, Australia, Kazakhtan, Uzbekistan, Thailand, dan Vietnam.

Bahkan, peraih Nobel Yuan T. Lee dari Taiwan dan tokoh fisika seperti Franz Gross, juga beberapa ilmuwan dari Singapura, Jepang, dan wakil UNESCO (Stephen Hill) bersedia hadir dalam acara ini. Yuan Tseh Lee juga ikut memberikan medali kepada para pemenang. Luar biasa!

Selama satu minggu acara olimpiade, kami membuat banyak seminar, pameran, seminar, dan berbagai pertunjukan sains. Luar biasa kalau diingat. Lebih dari 35.000 siswa dan guru-guru dari berbagai sekolah hadir dalam acara pameran dan seminar ini.

Seminar yang digelar meliputi berbagai topik menarik dengan pembicara yang khusus seperti Physics of Dancing oleh Kenneth Laws yang dilengkapi pertunjukan balet dari grup Marlupi, Physics of Magic oleh pesulap terkenal Indonesia Deddy Corbuzier, Physics of Astronomy oleh Prof. Dr. H. Saji (Jepang), Physics of Religion oleh Prof. Muslim dan Prof. Fred Herren, Physics of Finance oleh Prof. Hideki Takayasu, Physics of Solar Energy oleh Dr. Aswin Sasongko dan Dr. Arya Reza, Physics of Sport oleh Dr. Masno Ginting, Physics in Biomedical oleh Prof. Yeo Joon Hock, dan Physics of CAT Scan oleh A.B. Waluyo.

Selain seminar, ada berbagai lomba seperti Lomba Karya Cipta dan Kreasi, Lomba karya Tulis Ilmiah, dan Lomba Poster. Lalu dimeriahkan pula oleh festival seni yang mengeksplorasi kreativitas para peserta, seperti Lomba Tari Kreasi dan Lomba Parodi Fisika. Pameran pendidikan dan teknologi diselenggarakan di Supermal Karawaci yang letaknya bersebelahan dengan Universitas Pelita Harapan. Para guru pun berkesempatan mengikuti Konferensi Guru Fisika Indonesia yang menghadirkan banyak pembicara terkenal di Indonesia.

Selama satu minggu itu seluruh panitia sibuk luar biasa. Para mahasiswa yang tidak mengenal lelah mengatur kedatangan ribuan siswa ini, menjadikan UPH sangat semarak dan acara olimpiade berlangsung sangat fantastis. Inilah Mestakung, semua bekerja bersama-sama mendukung sehingga olimpiade fisika berlangsung sukses.

Usai acara olimpiade yang begitu sukses,  kami masih berhutang hampir 1 miliar. Namun terjadilah mestakung. Bapak Mochtar Riady dari Lippo Group bersedia menutupi kekurangan biaya ini. Luar biasa.

 “Bermimpi adalah kebebasan, jadi bebaskanlah impianmu.”—Astrid Alauda


APhO Website:
http://www.apho.org



Yohanes Surya