TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Mungkinkah orang Indonesia meraih Nobel Fisika?


Mungkin saja! Mengapa tidak?

Apakah Nobel Fisika itu? Nobel Fisika adalah suatu penghargaan tertinggi dalam bidang Fisika.  Hadiah ini diberikan tiap tahun oleh Nobel Foundation yang didirikan oleh Alfred Nobel bagi mereka yang melakukan penemuan penting dalam bidang fisika.

Alfred Nobel adalah  seorang  ahli kimia  industriawan dan  penemu dinamit. Ia menghibahkan 94 % kekayaannya untuk membuat Nobel Foundation yang memberikan hadiah bagi mereka yang berhasil melakukan terobosan-terobosan penting dalam bidang Fisika, Kimia, Kedokteran, Literatur  dan Perdamaian.

Apa pentingnya Hadiah Nobel Fisika bagi Indonesia?

Hadiah Nobel akan menjadi  suatu pengakuan dan kebanggaan.
Pengakuan dan kebanggaan bahwa orang Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain.
Pengakuan dan kebanggaan bahwa bangsa Indonesia bisa berkontribusi besar dalam bidang sains.
Pengakuan dan kebanggaan bahwa Indonesia masih ada.

Mengapa perlu pengakuan dan kebanggaan ini?

Dengan pengakuan dan kebanggaan ini kita lebih percaya diri.
Percaya diri bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang besar.
Percaya diri bahwa kita mampu melakukan hal yang lebih besar lagi.
Percaya diri ini dibutuhkan bagi kita untuk membangun bangsa yang saat ini sedang terpuruk oleh berbagai masalah.
Percaya diri ini dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi termaju.
Percaya diri ini dibutuhkan untuk membuat terobosan-terobosan penting dalam persaingan global ini.
Percaya diri ini akan mendorong pengembangan pendidikan secara menyeluruh di seluruh  tanah air.

Banyak yang bisa dilakukan oleh seorang peraih Nobel.

Tsung Dao Lee  peraih Nobel Fisika dari China  membangun fisika di China melalui program yang dinamakan CUSPEA. Tahun 1980 mereka menseleksi banyak anak-anak cerdas di China dan mengirimnya ke Amerika Serikat atas biaya Universitas-universitas di Amerika Serikat . Ini bisa dilakukan karena sebagai Nobel Fisika, ia mempunyai akses  keberbagai universitas di Amerika Serikat dan mengajak universitas-universitas ini bekerja sama.  Tahun 1989 sudah lebih dari 900 anak cerdas yang dikirim ke Amerika Serikat. Saya bertemu dengan beberapa siswa dari program ini dan pernah kuliah bersama mereka tahun 1989 di William and Mary.  Saya lihat mereka benar-benar siswa pilihan, kemampuan intelektualnya sangat baik.  Akibat program ini kini banyak sekali Fisikawan-fisikawan China di Amerika Serikat. Hampir tiap universitas di Amerika Serikat kini mempunyai professor yang berasal dari China. Mereka yang kembali ke China membangun komunitas fisika China menjadi salah satu komunitas fisika yang harus diperhitungkan di dunia ini.  Mereka yang tinggal di Amerika Serikat menjadi professor atau  membuka usaha, mengundang lebih banyak pelajar China yang lain datang untuk riset Ph.D, sehingga makin banyak saja orang-orang pintar China yang terdidik.  Gelombang pengiriman siswa ini tidak hanya merambah fisika saja, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti kimia, biologi, Matematika dan sebagainya.  Kini China membangun, ia memanggil banyak ilmuwannya pulang, dan kita lihat sendiri sekarang China menjadi raksasa dalam berbagai bidang termasuk dalam ekonomi.

Abdus Salam seorang peraih Nobel Fisika dari Pakistan. Ia mendirikan pusat fisika teori ICTP di Trieste Italia, tujuannya memberi kesempatan bagi fisikawan muda Asia untuk mengembangkan kemampuan risetnya. Banyak fisikawan muda Asia melakukan riset dan mendapatkan keuntungan dari ICTP ini. Abdus Salam disini sebagai seorang icon yang menarik banyak orang untuk datang ke ICTP. Kalau Abdus Salam bukan peraih Nobel, sulit bagi ICTP untuk berkembang sedemikian pesatnya seperti sekarang.

Saya bayangkan kalau Indonesia mempunyai seorang peraih Nobel, maka peraih Nobel ini dapat menjadi penggerak kemajuan teknologi di Indonesia. Peraih Nobel ini dapat menarik banyak ilmuwan top dunia untuk bergabung dan meneliti di Indonesia. Dengan banyaknya ilmuwan hebat bersama kita, maka kita naik kuda kejar kuda. Artinya kita “menunggangi” ilmuwan-ilmuwan  top untuk mengejar segala ketertinggalan teknologi kita. Peluang kita untuk menjadi negara hebat dalam teknologi semakin besar.

Bagaimana strategi kita meraih Nobel Fisika?

Berdasarkan statistik mulai tahun 1961 mereka yang meraih Nobel Fisika adalah murid peraih Nobel fisika sebelumnya. Para peraih Nobel biasanya berada dalam lingkungan elit  para ilmuwan besar. Dengan bekerja pada peraih Nobel seorang bisa berada dalam lingkungan elit para ilmuwan besar ini. Ini akan sangat mempengaruhi cara berpikir dia dan cara ia melakukan penelitian-penelitian. Jadi dapat dimengerti mengapa peraih nobel “dilahirkan” oleh peraih nobel. 

Nah kalau kita mau meraih Nobel maka kita harus kirim sebanyak mungkin siswa cerdas kita ke universitas dimana ada peraih Nobel atau ilmuwan yang hebat-hebat seperti di MIT, Caltech, Stanford Univ, Princeton, Univ. Cambridge, Univ. Tokyo dan sebagainya.

Saat ini kami sudah mengirim beberapa siswa terbaik kita ke berbagai universitas top di luar negeri.  Mereka sudah banyak berinteraksi dengan para peraih Nobel diantaranya Widagdo Setiawan di MIT menjadi murid Wolfgang Ketterle (peraih Nobel Fisika tahun 2001), Evelyn Mintarno di Stanford Univ. sempat menjadi asisten Douglas Osherroff (peraih Nobel Fisika tahun  1996), Oki Gunawan di Princeton Univ pernah jadi murid Daniel Tsui (peraih Nobel Fisika tahun 1998),  Rizal Fajar di Caltech banyak berinteraksi dengan peraih Nobel, bahkan ia sempat mengajar suatu kelas dimana di kelas itu ada seorang peraih Nobel fisika tahun 2004 (ya peraih nobel fisika sungguhan) sebagai murid. Ada sekitar alumni 70-an alumni TOFI sekarang tersebar di seluruh dunia.

Mungkin dari kita ada yang  bertanya, apakah tidak rugi anak-anak pintar kita kuliah di luar negeri,  dan setelah lulus diambil oleh negara-negara maju untuk mengembangkan negara-negara ? Bukankah inibrain drained” bagi Indonesia? Bagaimana mungkin Indonesia maju jika otak-otak pintarnya keluar Indonesia semua?

Kita harus berpikir positif.  Lihat  China yang saya ceritakan di atas.  Bagaimana mahasiswa China belajar di luar negeri dan bagaimana setelah lulus walaupun mereka di luar negeri namun mereka tetap dapat membangun China menjadi negara besar. Mengapa kita tidak lakukan itu? Mengapa kita tidak kirim sebanyak mungkin siswa cerdas kita belajar di luar negeri dan biarkan mereka menetap disana sambil terus mengembangkan ilmunya. Dan di Indonesia ini kita mulai menyiapkan infrastructure untuk para ilmuwan hebat kita ini pulang agar dapat terus melakukan inovasi-inovasi yang dapat membangun bangsa kita menjadi bangsa yang besar.

Saat ini juga kami sedang membuat kelas super untuk mereka yang mempunyai IQ>150. Kelas ini kami buat berdasarkan kepercayaan bahwa di Indonesia banyak orang pintar. Berdasarkan statistik secara umum di dunia ini, 1 diantara 1000 orang mempunyai IQ>150 dan 1 diantara 11 ribu orang mempunyai IQ>160 selevel Einstein.  Ini berarti kalau statistik ini benar, maka di Indonesia ada sekitar 250.000 orang jenius dan 25.000 Einstein-einstein.  Betapa luar biasanya kalau ini bisa dimaksimalkan.

Kelas super ini sudah dibuka  di Jakarta dengan mengambil tempat di SMAN 3 Jakarta. Tahun pertama ada 20 siswa dan tahun kedua 17 siswa. Saringannya sangat ketat sehingga sangat sedikit siswa yang bisa masuk ke kelas super ini.  Kurikulumnya di desain secara khusus. Tahun pertama untuk pelajaran Fisika, Matematika, Kimia dan Biologi setara dengan mata pelajaran dasar umum di tingkat I perguruan tinggi. Tahun kedua adalah materi-materi tingkat 2 dan tingkat 3 universitas.  Disamping sains dan matematika mereka belajar banyak hal yang lain seperti Komputer (bagaimana membuat computer games), bahasa Inggris (ditujukan pada conversation, SAT, TOEFL, menulis karya ilmiah  dan diskusi dalam bahasa Inggris), bahasa Indonesia (ditujukan pada menulis karya ilmiah), seni dan budaya (pengenalan seni dan budaya Indonesia), teknologi (mengunjungi berbagai pabrik dan pusat teknologi), musik (piano, biola dan alat musik tradisionil), agama dan etika, olahraga, ekonomi (difokuskan pada bagaimana perkembangan teknologi dapat mengubah ekonomi suatu bangsa), sejarah (lebih difokuskan pada peranan sains dan teknologi dalam sejarah)  dan sosial (kunjungan ke rumah sakit, penjara dsb).

Kami merencanakan untuk membuka beberapa kelas super di berbagai tempat yang berminat untuk membukanya. Kami sedang mencoba menghubungi berbagai kedutaan asing untuk dapat menawarkan beasiswa bagi anak-anak super ini dan memberi kesempatan mereka untuk studi di luar negeri begitu lulus SMA.

Dengan mengirim banyak siswa-siswa kita ke berbagai universitas terkenal di luar negeri akan semakin banyak ilmuwan-ilmuwan kita yang terdidik. Dari sekian banyak para ilmuwan terdidik ini bukan mustahil ada seorang yang akan meraih Nobel Fisika di Tahun 2020. Mestakung sedang dan akan terjadi terus kearah sana.

Yohanes Surya