TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Anak pintar TOFI dibajak Luar negeri, apakah kita biarkan?


Biarkan saja. Kita belajar dari China

Tahun 1980 mereka menseleksi banyak anak-anak cerdas di China dan mengirimnya ke Amerika Serikat atas biaya Universitas-universitas di Amerika Serikat .  Tahun 1989 sudah lebih dari 900 anak cerdas yang dikirim ke Amerika Serikat lewat program CUSPEA (khusus fisika) dan ribuan lainnya dari berbagai bidang. Saya bertemu dengan beberapa siswa dari program ini dan pernah kuliah bersama mereka tahun 1989 di William and Mary.  Saya lihat mereka benar-benar siswa pilihan, kemampuan intelektualnya sangat baik.  Melalui program ini banyak sekali Fisikawan-fisikawan dan ilmuwan (kimia, matematika, biologi dan lainnya) China di Amerika Serikat. Hampir tiap universitas di Amerika Serikat kini mempunyai professor yang berasal dari China. Mereka yang kembali ke China membangun komunitas fisika China menjadi salah satu komunitas fisika yang harus diperhitungkan di dunia ini.  Mereka yang tinggal di Amerika Serikat menjadi professor atau  membuka usaha, mengundang lebih banyak pelajar China yang lain datang untuk riset Ph.D, sehingga makin banyak saja orang-orang pintar China yang terdidik.   Kini China membangun, ia memanggil banyak ilmuwannya pulang. Dengan kompensasi yang kompetitif, ribuan ilmuwan China pulang kampung. Kita saksikan sendiri sekarang China menjadi raksasa dalam berbagai bidang termasuk dalam ekonomi. Apakah kita tidak ngiler jadi seperti atau bahkan lebih besar dari China?

Saat ini kami sudah mengirim beberapa siswa terbaik kita ke berbagai universitas top di luar negeri.  Mereka sudah banyak berinteraksi dengan para peraih Nobel diantaranya Widagdo Setiawan di MIT menjadi murid Wolfgang Ketterle (peraih Nobel Fisika tahun 2001), Evelyn Mintarno di Stanford Univ. sempat menjadi asisten Douglas Osherroff (peraih Nobel Fisika tahun  1996), Oki Gunawan di Princeton Univ pernah jadi murid Daniel Tsui (peraih Nobel Fisika tahun 1998),  Rizal Fajar di Caltech banyak berinteraksi dengan peraih Nobel, bahkan ia sempat mengajar suatu kelas dimana di kelas itu ada seorang peraih Nobel fisika tahun 2004 (ya peraih nobel fisika sungguhan) sebagai murid. Ada sekitar alumni 70-an alumni TOFI sekarang tersebar di seluruh dunia.

Mungkin dari kita ada yang  bertanya, apakah tidak rugi anak-anak pintar kita kuliah di luar negeri,  dan setelah lulus diambil oleh negara-negara maju untuk mengembangkan negara-negara ? Bukankah ini “brain drained” bagi Indonesia? Bagaimana mungkin Indonesia maju jika otak-otak pintarnya keluar Indonesia semua?

Kita harus berpikir positif.  Lihat  China yang saya ceritakan di atas.  Bagaimana mahasiswa China belajar di luar negeri dan bagaimana setelah lulus walaupun mereka di luar negeri namun mereka tetap dapat membangun China menjadi negara besar. Mengapa kita tidak lakukan itu? Mengapa kita tidak kirim sebanyak mungkin siswa cerdas kita belajar di luar negeri dan biarkan mereka menetap disana sambil terus mengembangkan ilmunya. Dan di Indonesia ini kita mulai menyiapkan infrastructure untuk para ilmuwan hebat kita ini pulang agar dapat terus melakukan inovasi-inovasi yang dapat membangun bangsa kita menjadi bangsa yang besar.



Yohanes Surya