TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Apa Manfaatnya ikut Olimpiade Fisika?

Logo TOFI

Setiap kali Tim Olimpiade Fisika Indonesia kembali ke Indonesia dengan kemenangan, seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan  dari sekelompok masyarakat: “Apa sih manfaatnya ikut Olimpiade Fisika atau olimpiade sains lainnya ?” Bukankah lebih baik dananya dipakai untuk membangun sekolah atau melatih guru? Jadi untuk apa kita setiap tahun buang-buang uang untuk dana pelatihan dan ikut-ikutan menjadi peserta berbagai macam Olimpiade Fisika?

Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai ajang Olimpiade Fisika ini dimulai pada tahun 1993. Waktu itu beberapa siswa SMA datang ke Amerika Serikat untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional (International Physics Olympiad). Mereka hanya mengikuti pelatihan selama 2 bulan. Siapa sangka, keikutsertaan yang pertama kalinya ini ternyata merupakan awal yang sangat bagus karena Indonesia langsung berhasil menyabet medali perunggu.

Dikejutkan oleh hasil yang cukup baik itu, ide untuk meneruskan keikutsertaan Indonesia dalam ajang internasional ini mulai muncul. Persiapan yang hanya 1 bulan saja bisa membuahkan medali perunggu, apalagi persiapan jangka panjang! Pasti hasilnya bisa lebih bagus! Inilah awal mula dibentuknya Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Tahun-tahun berlalu, metode pelatihan TOFI semakin lama semakin disempurnakan. Ada satu hal yang bisa diamati. Ternyata dengan pelatihan jangka panjang dan intensif, hasil yang didapatkan semakin baik pula. Pelan-pelan TOFI mulai meningkatkan prestasinya. Kini bukan hanya medali perunggu saja, TOFI justru sudah menjadi langganan medali emas. Bahkan tidak hanya itu saja, TOFI pun sering kebagian penghargaan khusus di ajang IPhO (International Physics Olympiad) dan APhO (Asian Physics Olympiad), seperti Penyelesaian Ujian Eksperimen yang Paling Kreatif (Most Creative), Nilai Terbaik pada Kompetisi Fisika Teori (The Best Result at the Theoretical Examination), dan Nilai Terbaik pada Kompetisi Fisika Eksperimen (The Best Result at the Experimental Examination). Indonesia bahkan pernah dinobatkan sebagai Juara Asia. Prestasi cemerlang ini dicapai karena adanya pelatihan yang metodenya terus diperbaiki dari tahun ke tahun. Waktu pelatihan pun tidak hanya 1 bulan, tetapi mencapai 10 bulan, bahkan 1 tahun. Nah, inilah rahasia TOFI sehingga bisa menjadi langganan medali emas dan sering mendapatkan penghargaan khusus yang bergengsi itu. Sampai tahun 2007 ini Indonesia telah meraih 29 medali emas, 20 perak  dan 38 perunggu dari Olimpiade Fisika dan 16 emas  11 perak dan 3 perunggu  dari Olimpiade Sains SMP.

Kembali ke pertanyaan tentang perlunya mengikuti Olimpiade Fisika, ada beberapa pihak yang kurang menyetujui keikutsertaan Indonesia di ajang internasional ini. Untuk apa melatih siswa begitu lama hanya demi mengejar sebuah medali emas? Apa pentingnya medali emas di Olimpiade Fisika?

Mengapa para pemenang Medali Emas selalu menjadi pusat perhatian masyarakat? Karena medali emas menyimpan arti yang begitu penting! Secara logika, kita tidak akan pernah mengirimkan tim hanya untuk kalah. Jika kita mengirimkan tim, pasti kita mengharapkan tim tersebut untuk menyumbangkan kemampuan terbaik mereka sehingga terbuka kesempatan untuk menjadi salah satu pemenang. Para peraih medali emaslah yang biasanya dianggap sebagai pemenang utama. Dalam Olimpiade Sains Internasional, khususnya Olimpiade Fisika Internasional, tim-tim menang akan menjadi pusat perhatian dan tentu ini memberikan kebanggaan tersendiri negara yang mendapatkannya. Bangsa Indonesia yang sedang terpuruk ini membutuhkan sesuatu yang mampu mengangkat kembali harga diri kita. Berbagai peristiwa menyedihkan terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Bangsa kita pun mulai dicap sebagai teroris. Apakah kita ingin dikenal sebagai bangsa yang barbar?

            Sewaktu TOFI mengikuti APhO di Thailand pada tahun 2003, tim kita keluar sebagai Juara Asia dengan merebut 6 medali emas. Menteri Thailand langsung memberi komentar: “Wah, siswa Anda hebat sekali!“. Terlebih ketika Indonesia menjadi juara dunia (peringkat pertama dari 85 negara) di Olimpiade Fisika International ke 37 Singapore tahun 2006. Saat itu semua pandangan kagum tertuju pada siswa-siswa kita. Bahkan tim Amerika sendiripun mengakui bahwa Indonesia luar biasa. Mereka mengatakan bahwa di tahun 2006 itu mereka membawa tim terkuatnya, namun ternyata Indonesia lebih unggul. Luar biasa. Semula mereka berpikir bahwa kualitas SDM Indonesia rendah, malas, dan bodoh. Tetapi ternyata kita mampu menang. Ini menunjukkan bahwa SDM kita, jika dilatih dan dibina dengan baik, ternyata dapat dididik untuk tidak malas dan tidak bodoh. Kini setiap tahunnya semua peserta olimpiade fisika dari berbagai negara menaruh hormat pada negara kita  berkat prestasi siswa-siswa kita.  

Bakat-bakat terpendam sudah seharusnya dipupuk supaya bisa berkembang. Jiwa kompetisi pun harus dibangkitkan dalam diri bangsa Indonesia supaya bisa bersaing di dunia internasional. Kita pasti tidak mau terus-menerus menjadi bangsa yang tertinggal. Jiwa kompetisi ini dapat ditumbuhkan melalui berbagai lomba, mulai dari tingkat sekolah, tingkat nasional, sampai internasional, seperti yang sudah dijalankan saat ini. Kemenangan dalam berbagai lomba tersebut dapat menunjukkan kualitas bangsa kita yang sebenarnya sehingga menghilangkan anggapan bahwa Indonesia adalah bangsa yang malas dan bodoh.

Medali Emas juga memberi dampak positif lain bagi para siswa kita. Dengan berbekal medali emas dari Olimpiade Fisika Internasional, siswa-siswa berbakat mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan di berbagai universitas top dan berkualitas di berbagai negara maju. Medali Emas memang sangat mempengaruhi penerimaan siswa di universitas-universitas seperti MIT (Massachusetts Institute of Technology), Stanford, Harvard, Caltech, dan sebagainya. Jika siswa-siswa Indonesia berhasil masuk di salah satu universitas terkemuka tersebut, sudah pasti mereka akan mendapat kesempatan untuk mengerjakan berbagai penelitian yang berkualitas tinggi, bahkan mungkin penelitian yang dapat menuntun mereka pada hadiah Nobel di kemudian hari.

Beberapa alumni TOFI yang saat ini sudah diterima dan sedang kuliah di universitas-universitas terkemuka dunia itu menunjukkan prestasi yang sangat luar biasa. Pelatihan berbulan-bulan yang mereka jalankan saat mempersiapkan Olimpiade Fisika ternyata telah menggembleng mereka untuk menjadi mahasiswa yang mampu bersaing dengan mahasiswa dari negara mana pun. Bulan April 2004 yang lalu, 3 mahasiswa alumni TOFI (Agustinus Peter Sahanggamu, Widagdo Setiawan, dan Rezy Pradipta) masuk dalam Tim Fisika MIT dan berhasil membuat MIT menjadi Juara Umum dalam Boston Area Undergraduate Physics Competition (BAUPC), sebuah perlombaan fisika yang diikuti oleh universitas-universitas paling top di Amerika Serikat. Siswa-siswa Indonesia yang telah menjalani pelatihan intensif dalam waktu panjang sewaktu bergabung di TOFI itu kini benar-benar menunjukkan mental juara yang dibangun melalui pelatihan tersebut. Ada beberapa orang alumni TOFI yang sekarang bahkan menjadi asisten perah Nobel Fisika!

Untuk mendapatkan hasil gemilang dalam ajang internasional, Indonesia memang membutuhkan persiapan yang sebaik mungkin. Hanya negara yang serius mempersiapkan diri sajalah yang berhasil untuk menjadi juara. Negara Cina dapat dijadikan contoh. Mereka mempunyai program khusus untuk membina anak-anak berbakat. Demikian pula halnya dengan Iran dan India, yang juga merupakan negara-negara langganan medali emas.

Selain menjadi pemenang, Indonesia juga mendapatkan keuntungan yang besar jika menjadi tuan rumah ajang kompetisi internasional tersebut. Salah satu keuntungannya adalah Indonesia bisa mempromosikan diri dan menunjukkan bahwa negara kita merupakan negara aman. Juga  para ilmuwan  yang menjadi juri menjadi lebih dikenal di dunia internasional. Mereka dapat menjalin interaksi yang lebih baik dengan negara lain. Saat mengunjungi negara lain pun, mereka akan selalu dihormati dan diajak kerja sama dalam berbagai hal.

Keikutsertaan dalam berbagai kompetisi juga memberikan keuntungan bagi dunia pendidikan Indonesia secara umum. Menurut beberapa analisa psikolog, 1 diantara 1000 orang populasi mempunyai IQ= 150, dan 1 diantara 11 ribu orang mempunyai IQ diatas 160 (setara dengan Einstein). Populasi Indonesia mencapai 250 juta. Itu berarti di Indonesia terdapat 250.000 anak dengan IQ diatas 150 atau ada sekitar 25 ribu Einstein-einstein. Bakat mereka akan tetap terpendam jika tidak ada dorongan untuk mengembangkan dan mengasahnya. Siswa-siswa berbakat ini harus diangkat dan dibina secara intensif. Begitu siswa yang berbakat ini bisa terangkat, maka yang lain pun akan ikut terangkat. Sama seperti menarik kain, jika kita menarik bagian tengahnya, otomatis bagian-bagian lainnya akan terangkat juga. Cara yang paling efektif untuk mengembangkan bakat-bakat terpendam ini adalah melalui kompetisi-kompetisi. Melalui kompetisi, siswa didorong untuk bersaing, untuk belajar keras, dan untuk menang. Kompetisi pun bukan hanya membangkitkan semangat belajar dalam diri siswa-siswa kita, tetapi juga membangkitkan keinginan para guru untuk menjalani pelatihan dalam rangka memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Sebagai guru, tentunya mereka harus memiliki pengetahuan yang lebih luas dibanding murid-muridnya, supaya mereka bisa mentransfer pengetahuan itu dengan efektif. Para guru mulai menyadari bahwa pengetahuan mereka saat ini sangat rendah sehingga mereka sangat membutuhkan training. Kesadaran semacam ini sangat menggembirakan karena merupakan cikal-bakal kesuksesan dan kemajuan bangsa.(***)



Yohanes Surya