TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Sejarah TOFI 2007

TOFI 2007

Tahun 2006 kita berhasil menjadi juara dunia Olimpiade Fisika Internasional. Kami sangat puas dengan hasil di Singapura, ternyata anak Indonesia mampu meraih yang terbaik di kejuaraan dunia ini. Hasil ini mendorong kami untuk memasang target yang lebih tinggi yaitu mengalahkan China di Olimpiade Fisika Asia ke 8 di China. China selama ini dikenal sangat kuat dalam Olimpiade Fisika, jadi kalau bisa mengalahkan China apalagi di kandangnya, pasti akan menjadi sesuatu sejarah tersendiri.

Target ini mendorong kami untuk bekerja sangat keras. Kami tahu bahwa tanpa persiapan yang matang tidak mungkin Indonesia bisa meraih medali emas di China. Kami ingat tahun 1994 waktu Olimpiade Fisika Internasional diadakan di China, saat itu dari 6 medali emas, China merebut 4 medali emas. Indonesia saat itu tidak kebagian satupun medali.

Orang bilang mustahil dapat medali emas di China 2007. Sebagai tuan rumah China tentu  akan buat soal yang sangat sulit. Apalagi yang diadakan di China adalah Olimpiade Fisika Asia yang terkenal soal-soalnya jauh lebih sulit dibandingkan Olimpiade Fisika Internasional. Dan juga sistem penilaian di Olimpiade Fisika Asia berbeda dengan sistem penilaian Olimpiade Fisika Internasional. Kalau dalam IPhO minimal 18 peserta (6 %) bisa mendapatkan medali emas, sedangkan dalam APhO yang mendapat emas adalah mereka yang mendapat nilai 90 % dari nilai rata-rata 3 peserta teratas. Jadi kalau dalam APhO ada anak-anak jenius maka nilai yang harus di peroleh untuk mendapatkan emas sangat tinggi. Di APhO lebih sulit dapat emas disbandingkan di IPhO. Sebagai  gambaran: dalam IPhO 2006  di Singapura nilai 37 dari 50 poin sudah dapat medali emas tapi dalam APhO rata-rata nilai 42 atau 43 baru bisa meraih emas.

Untuk mencapai target ini kami berbuat apa saja. Untuk membuat anak tetap semangat kami membuat yel-yel “sehebat apapun China kami bisa mengalahkannya”. Kami juga membuat spanduk-spanduk. Para alumni (Yendi, Christopher Hendriks, Made Agus Wirawan dan lainnya) semangat melatih. Para dosen (Rachmat Widodo, Sastrakusuma, Yosef, dll) all out menyiapkan tim. Mestakung (semesta mendukung) juga terjadi dalam masalah akomodasi dan konsumsi siswa. Pak Murdaya Poo seorang usahawan secara sukarela menyediakan tempat dan makanan yang sangat baik di PRJ Kemayoran untuk persiapan tim. Sebagai pimpinan saya terdorong untuk memperhatikan siswa ini secara sangat intensif, berhari-hari saya tinggal dengan siswa di PRJ hanya untuk mendorong, melatih dan memotivasi siswa ini.

Ternyata kerja keras para siswa, para Pembina tidak sia-sia. Secara luar biasa Muhammad Firmansyah Kasim (SMA Athirah Makasar) berhasil mengalahkan seluruh pasukan Naga (China) sebanyak 16 orang dalam bidang eksperimen Fisika, sekaligus meraih medali emas.  Sayang Firmansyah Kasim kalah dalam bidang fisika teori. Nilai Firmansyah 43,2 hanya kalah 0,1 point dari peserta terbaik China (43,3 point). Indonesia dalam olimpiade fisika di China ini berhasil meraih 2 medali emas (atas nama Firmansyah Kasim dan Rudi Handoko Tanin/SMA Sutomo Medan) dan 3 perak (Musawwadah Mukhtar SMAN 78 Jakarta, David Halim SMA Xaverius Bandar Lampung, Ivan Gozali SMA Kanisius Jakarta ) dan 2 perunggu (Yosua Maranatha SMAN 3 Yogyakarta dan Adam Badra Cahaya SMAN  1 Jember)

Dengan hasil yang begitu baik di China, kami optimis akan mampu menjadi juara dunia di Olimpiade Fisika Internasional ke 38 di Isfahan Iran.  Rasa optimis ini membuat kami lengah. Waktu 2 bulan setelah olimpiade Fisika Asia kurang dimanfaatkan dengan baik.  Walau 5 siswa yang kita kirim semuanya mendapat medali namun hasilnya kurang maksimal. Tim Indonesia hanya mampu meraih 1 emas (Firmansyah Kasim), 3 perak (Mussawwadah Mukhtar, Rudi Handoko, Yosua Maranatha) dan 1 perunggu (David Halim).

Dari dua pertandingan ini kami belajar lagi bahwa untuk jadi juara, kami harus terus  jaga kondisi dan motivasi kita tetap tinggi.

Disamping Depdiknas, mereka yang membantu TOFI 2007 adalah kantor Kesra (Bapak Aburizal Bakrie, menko kesra), bapak/ibu Murdaya Poo (PRJ Kemayoran), Bpk Suryadi (intercon),  Dexa Medica dan XL-com.  Sedang diusahakan agar Wapres bapak Jusuf Kalla dapat memberikan beasiswa untuk Muhammad Firmansyah Kasim ke universitas terbaik di dunia (Firman lulus SMA tahun 2008).

Pejuang Pahlawan Bangsa 2007:

1.     Muhammad Firmansyah Kasim, SMA Athirah Makasar – emas/IPhO + emas/APhO

2.     Rudi Handoko Tanin/SMA Sutomo Medan – perak/IPhO + emas/APhO

3.     Musawwadah Mukhtar SMAN 78 Jakarta – perak/IPhO + perak/APhO

4.     Yosua Maranatha SMAN 3 Yogyakarta – perak/IPhO + perunggu/APhO

5.     David Halim SMA Xaverius Bandar Lampung – perunggu/IPhO + perak/APhO

6.     Ari Prasetyo SMAN 1 Sukoharjo – Perak/APhO

7.     Ivan Gozali SMA Kanisius Jakarta – Perak/APhO

8.     Adam Badra Cahaya SMAN 1 Jember – perunggu/APhO

9.     Indra Purnama SMA Taruna Nusantara Magelang – Perunggu/APhO

10.   Ridwan Salim Sanad, SMAN 4 Denpasar – Perunggu/APhO

11.   Azis Adi Suyono SMAN 1 Cilacap – HM/APhO

12.   Made Surya Adhiwirawan SMUN 1 Denpasar – HM/APhO

13.   Sandy Ekahana SMAK BPK 1 Penabur Jakarta – HM/APhO

14.   Fakhri Saleh Zahedi – SMA Lab School Jakarta – HM/APhO

15.   Chrisanthy Rebecca Surya SMA Dian harapan Karawaci

16.   Yosmar Putra SMAK 1 BPK Penabur Bandung

 



Sie Doc