TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Sejarah TOFI 2003

TOFI 2003

Saat yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga. Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) menjadi Juara Umum di Asian Physics Olimpiad (APhO) yang diadakan di Thailand 20-29 April 2003 kemarin.

6 Medali Emas, yang dipersembahkan oleh Widagdo Setiawan, Yudistira Virgus, Rangga Perdana Budoyo, Bernard Ricardo, Hani Nurbiantoro Santosa, dan Triwiyono Darsowyono, dan 2 Honourable Mentions (Yendi dan Muhammad Abdurrahman Attamimi) seakan menjadi hadiah manis bagi perjuangan mereka selama mengikuti pelatihan TOFI beberapa bulan terakhir. Semua jerih payah terbayar sudah. Rangga Perdana bahkan melengkapi hasil fantastis ini dengan sebuah Special Prize untuk Most Creative Solution in Experiment. Dominasi tim Indonesia diperkuat oleh Widagdo Setiawan yang membukukan nilai tertinggi dalam kompetisi fisika teori, dan Bernard Ricardo yang mencatat nilai tertinggi pula dalam kompetisi fisika eksperimen. Siapa sangka Indonesia bisa mengukir prestasi semacam ini?

Tunggu dulu, prestasi gila-gilaan ini bukannya datang dalam sekejap. Dalam keikutsertaannya yang pertama di ajang kompetisi fisika se-Asia ini, Indonesia sama sekali tidak mendapatkan medali emas. APhO I diselenggarakan di Karawaci, Indonesia, pada tanggal 24 April – 2 Mei 2000. Waktu itu tim kita yang dipersiapkan selama 5 bulan berhasil mendapatkan 1 medali perak, 2 medali perunggu, dan 1 honourable mentions. Pada ajang APhO II yang diselenggarakan di Taiwan TOFI membekali diri dengan lebih baik. Ini terbukti dari perolehan 1 medali emas, 1 medali perak, 1 medali perunggu, dan 3 honourable mentions. Nah, di sini tim kita mulai unjuk gigi. Selain emas, Rezy Pradipta juga menyumbangkan Special Prize Most Creative Solution in Theory. Tahun berikutnya di Singapura TOFI semakin menunjukkan kemampuannya. 1 medali emas, 5 perunggu, dan 1 honourable mentions mengunci Indonesia pada peringkat ke-3 dari 15 negara peserta. Selain itu Special Prize pun tetap disabet. Kali ini oleh Agustinus Peter Sahanggamu, yang selain menyumbangkan medali emas juga mendapatkan The Best Result at the Theoretical Competition. Dan akhirnya APhO IV di Bangkok, Thailand, berhasil mengejutkan dunia internasional dengan prestasi gemilang Einstein-Einstein muda Indonesia. Tidak pelak lagi, Indonesia bertengger di peringkat 1 dari 10 negara peserta.

Widagdo Setiawan dari SMUN 1 Denpasar, Bali, mengalahkan seluruh peserta dalam kompetisi teori dengan mencatat nilai 28 (maksimal 30). Total nilai yang diperolehnya, baik dari kompetisi teori dan eksperimen, mencapai 44,6 poin. Bernard Ricardo, siswa SMU Regina Pacis Bogor, mengumpulkan 19 poin (dari maksimal 20) dalam kompetisi fisika eksperimen. Ini suatu prestasi yang sangat menarik karena selama ini kelemahan tim Indonesia terletak pada fisika eksperimen. Ternyata dengan pelatihan yang cukup kelemahan itu dapat diperbaiki, bahkan sekarang bisa mendapatkan nilai tertinggi di kompetisi eksperimen. Suatu perjuangan yang patut diacungi jempol!

Satu lagi siswa yang juga mencatat prestasi mengagumkan, Rangga Perdana dari SMU Taruna Nusantara Magelang. Meskipun Rangga tidak mendapatkan poin tertinggi di fisika teori maupun eksperimen, ternyata caranya mengerjakan soal (di kompetisi fisika eksperimen) dianggap sangat menarik dan kreatif. Jadilah Rangga satu-satunya peserta dari Indonesia yang mendapatkan Special Prize yang bergengsi itu.

Jika kita memperhatikan lebih jauh lagi, tim Indonesia kali ini justru didominasi oleh anak-anak daerah. Tidak ada satu pun pelajar dari Ibukota Jakarta yang berhasil masuk dalam tim yang berhasil mencatat prestasi mencengangkan ini. Ini menunjukkan siswa-siswa di daerah pun mempunyai intelektual yang tidak bisa disepelekan. Hanya perlu digali dan dikembangkan untuk mencapai prestasi gilang-gemilang semacam ini.

Selamat untuk TOFI atas prestasi kali ini. Semoga keberhasilan ini dapat menjadi bekal yang cukup untuk bertanding di ajang kompetisi fisika dunia International Physics Olimpiad (IPhO) di Taiwan nanti. (Yohanes Surya, )

Kesan  di Thailand.

Olimpiade Fisika Asia, wah angker banget... Fisika aja sudah bikin kelenger apalagi olimpiadenya wah pasti bikin teler nih.... Pasti orang yang ikut serius-serius dan tidak pernah ketawa... pokoknya manusia-manusianya nggak bisa diajak ha...ha... hi..hi.... Apa begitu?

Ternyata nggak tuh... Menurut pengakuan sohib-sohib kalian yang ikutan olimpiade fisika, olimpiade fisika itu menyenangkan sekali, orang-orang yang ikut menyenangkan, mereka mudah diajak bicara dan sepanjang olimpiade kebanyakan ketawanya kecuali waktu perpisahan.... menangis semua. Sampai-sampai waktu kita mau pulang, di airport terjadi hujan tangis antara para liason officer (para pemandu siswa) yang seluruhnya cewek-cewek thailand yang cantik-cantik dengan teman-teman kalian. Rupanya para cewek thailand ini tidak mau berpisah dengan anggota tim olimpiade fisika Indonesia yang pinter-pinter dan suka humor ini... Nah luh... Lebih-lebih tangisan seorang pemandu yang rupanya jatuh cinta dengan seorang anggota tim kita.

Disana itu acaranya tidak hanya test melulu. Testnya sendiri hanya 2 kali 5 jam. Sisanya tentu saja jalan-jalan, belajar kesenian Thailand termasuk belajar menari tarian Thailand, mengunjungi berbagai obyek wisata termasuk berbagai candi-candi kuno, lihat penangkaran buaya terbesar di dunia (ada 60.000 buaya), melihat berbagai atraksi yang bikin kagum seperti kepala dimasukkan kedalam mulut buaya, makan makanan khas Thailand, olahraga, berenang. Waah... pokoknya asyik deh...

Kesan-kesan tim lainnya juga menunjukkan bahwa olimpiade fisika asia sangat menyenangkan. Hujan tangis juga terjadi di Airport dan waktu pesta perpisahan (ternyata orang-orang pinter perasaannya halus banget....).  Mereka seolah-olah tidak mau berpisah dengan teman-teman barunya. Tim Australia bilang walaupun kepanasan, olimpiade fisika sangat berkesan, mereka senang dapat teman baru, dan tidak bisa melupakan Thailand yang begitu kaya dengan budaya dan arsitek serta keramahan penduduknya. Tim Taiwan disamping terkesan dengan teman-teman barunya, juga terkesan pada makanannya, atraksi-atraksi yang menarik, dan patung Budha yang begitu indah. Tim Israel mengatakan bahwa Thailand sangat panas (“hot”) tetapi olimpiadenya sangat “cool”, ini merupakan dua sistem yang berada dalam satu tempat yang tidak melanggar hukum fisika termodinamika dua. Kirgistan, Laos dan Pakistan yang baru pertama kali ikut olimpiade fisika asia mengatakan, bahwa olimpiade fisika sangat berkesan, mereka senang melihat senyuman orang thailand, pagodanya dan keramahan para liason officernya. Vietnam yang akan menjadi tuan rumah tahun depan mengatakan bahwa mereka bingung gimana mengalahkan thailand dalam penyelenggaraan tahun depan. Mereka berjanji akan membuat olimpiade lebih menyenangkan dan akan dibuka langsung oleh presiden Vietnam.

(Yohanes Surya, )


2003 IphO
Peluang Indonesia dalam OFI 34

Pada hari sabtu besok tanggal 2 Agustus teman-teman  kalian yang tergabung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) akan berangkat ke Taiwan untuk mengikuti OFI ke 34 yang rencananya akan diadakan pada tanggal 2-11 Agustus. Sekitar  54 negara termasuk Rusia, Amerika Serikat, India, Iran, Hongaria dan tuan rumah  Taiwan akan mengikuti olimpiade fisika yang sangat bergengsi ini yang menurut rencana akan dibuka langsung oleh presiden Taiwan Chen Shui Bian.

Apa sih olimpiade fisika itu?  Olimpiade Fisika Internasional merupakan pertandingan fisika antar pelajar-pelajar  terbaik dari seluruh dunia. Disini teman-teman kalian dari seluruh dunia mempertunjukkan kemampuan menganalisa 3 soal  fisika teori dan 2 soal eksperimen masing-masing dalam  waktu 5 jam.

Level soal fisika yang biasa dipertandingkan dalam olimpiade fisika nggak main-main. Sangat berbeda dengan soal-soal yang kalian dapat di SMU.  Orang yang tidak terbiasa melatih soal-soal olimpiade fisika akan sulit deh untuk mengerjakan soal-soal ini walaupun ia sudah mendapat gelar S3 fisika sekalipun. Itu sebabnya teman-teman kalian ini harus diseleksi dan dilatih berbulan-bulan agar mencapai level yang diharapkan.

Seleksi dimulai dari tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Depdiknas sekitar bulan Maret-April  2002.  Nah dari seleksi ini dipilih 90 teman-teman kalian yang pintar-pintar fisika untuk mengikuti seleksi nasional di Bali Juli 2002. Di Bali ini teman kalian ditest lagi untuk  diperas menjadi  35 orang. Tidak berhenti sampai disitu, ke 35 siswa ini dibawa ke Karawaci dan ditraining secara intensif  selama bulan oktober 2002.  Sepuluh siswa terbaik dipilih dan ditraining hingga April 2003.

Training intensif ini meliputi materi-materi yang diberikan di perguruan tinggi seperti mekanika, elektromagnetika, relativistik, fisika modern, fisika statistik, fisika zat padat dan sedikit fisika kuantum. Para siswa ini membaca dan mengerjakan banyak sekali soal-soal yang “advanced” tiap hari mulai pukul 08.00 hingga jauh tengah malam dari senin hingga jumat. Tiap hari sabtu mereka menghadapi test-test yang lamanya berkisar antara 5 jam – 10 jam. Hari minggu mereka biasanya agak santai.

Untuk fisika eksperimen para siswa ini dilatih dengan menggunakan berbagai alat eksperimen dari yang alat sangat sederhana seperti bidang miring hingga yang sangat kompleks dengan menggunakan banyak sensor dan peralatan listrik seperti osiloskop dan sebagainya. Mereka juga dilatih bagaimana membuat laporan eksperimen yang benar dan cara menghitung “error” yang pengaruhnya sangat besar dalam penilaian.

Walaupun setiap hari bergelut dengan fisika, para siswa ini tidak banyak mengeluh. Nggak bosan. Buktinya   8 dari 10 siswa ini ingin melanjutkan studinya ke fisika.

Hasil kerja keras teman-temanmu ini ternyata tidak sia-sia,  dalam Olimpiade Fisika Asia ke 4 di Thailand bulan April yang lalu, teman-temanmu ini tidak tanggung-tanggung merebut 6 medali emas (Rangga Perdana – SMU Taruna Nusantara Magelang, Bernard Ricardo – SMU Regina Pacis Bogor, Yudistira Virgus – SMU Xaverius 1 Palembang, Widagdo Setiawan – SMUN 1 Denpasar, Triwiyono – SMUN 3 Yogyakarta, dan Hanny Nukbianto SMU Sedes Sapiente Semarang) dan 2 honorable mention (Yendi – SMUN 3 Jambi dan Muhammad Attamimi – SMUN 5 Surabaya) dan jadi juara Asia untuk pertamakalinya mengalahkan Taiwan yang langganan juara Asia bergantian  dengan China. Bukan itu saja, Rangga merebut hadiah khusus sebagai “the most creative experimentalist”.  Sayang di Olimpiade Fisika Asia ini China tidak ikut karena takut SARS.

Sepulang dari Thailand, mereka yang meraih medali emas ditraining lagi dengan soal-soal yang lebih banyak. Teman-teman kalian tahu bahwa  pertandingan di Taiwan ini tidak main-main karena soalnya dibuat langsung oleh Taiwan yang terkenal sangat kuat di Olimpiade Fisika.  Tahun 2001  waktu olimpiade fisika Asia ke 2 di Taiwan, saking sulitnya soal yang diberikan, dari seluruh peserta tidak ada satupun yang mampu mendapat nilai diatas 75 %. Waktu itu walaupun kita dapat medali emas (Rezy Pradipta – SMU Taruna Nusantara Magelang), kita hanya mampu meraih sekitar 65 % untuk fisika teori.

Melalui interview dan test akhirnya terpilih 5 siswa terbaik yang akan mewakili Indonesia dalam OFI ini. Hanny sebagai cadangan juga ikut diberangkatkan.

Hari rabu kemarin adalah hari terakhir pelatihan, tampaknya teman-teman kalian ini sangat confident. Kita bangga juga bahwa secara mental mereka tidak takut untuk menghadapi negara-negara kuat seperti Rusia, Amerika Serikat dan sebagainya. “Jika kita mampu mengalahkan Taiwan di Thailand, kenapa kita takut pada negara-negara itu” kata teman-teman kita.

Nah sekarang kita lihat  kira-kira kita bisa dapet emas tidak yah?

Medali-medali dalam olimpiade fisika ini diberikan dengan aturan sebagai berikut:

1.     Juri menilai pekerjaan siswa kemudian membuat rangking berdasarkan nilai yang diperoleh para siswa.

2.     Juri menetapkan batas bawah emas  dengan mengambil 6 % teratas, perak 6 % berikutnya, perunggu 6 % berikutnya lagi dan honorable mention 6 % berikutnya lagi.

3.     Pimpinan tim memeriksa hasil pekerjaan siswa dan mencocokan dengan hasil penilaian juri. Jika juri membuat kesalahan atau penilainnya tidak sesuai dengan penilaian pimpinan tim maka hasil penilaian juri bisa dikoreksi melalui proses moderasi.

Sebagai contoh dalam OFI ke 34 ini ada 54 negara dengan  sekitar 260 peserta. Jadi 6 % (16 orang,  dibulatkan ke atas) ditetapkan mendapat medali emas. Batas bawah emas ditempati mereka yang mendapat rangking 16. Misalnya rangking 16 mendapat nilai 39 (dari maksimum 50). Nah jika juri membuat kesalahan dalam penilaian maka pimpinan tim bisa memprotes untuk mendapat tambahan nilai bagi siswanya sehingga siswanya mungkin bisa meraih nilai diatas 39 dengan demikian siswa ini juga bisa mendapat medali emas. Jadi yang dapat medali emas bisa saja lebih dari 6 %.  Waktu OFI ke 33 di Bali yang mendapat medali emas naik dari 6 % menjadi sekitar 14 %.

Di Taiwan ini menurut pimpinan tim Taiwan diusahakan agar tidak terjadi inflasi medali. Para juri membuat strategi sehingga kecil kemungkinan para pimpinan tim dapat memprotes penilaian juri sehingga diharapkan peraih medali emas berkisar hanya 6-7 % saja. Kompetisi akan lebih ketat.

Kalau dilihat dari hasil yang dicapai teman kalian di Thailand bulan April lalu,  peluang kita untuk meraih medali emas cukup besar. Jika jumlah medali emas sekitar 16-18 medali kita harapkan kita mampu meraih sekitar 3 medali emas. Ini berdasarkan perhitungan kekuatan tim-tim Asia dan tim peserta lainnya.  Yang diperkirakan mendapat medali emas disamping Indonesia adalah Rusia, Iran, Amerika Serikat, Jerman, India, Hongaria dan tuan rumah Taiwan. Memang dalam pertandingan banyak hal bisa terjadi. Tetapi kita tetap mengharap yang terbaik akan diperoleh tim Indonesia.  Mari kita doakan agar para sohib kita mampu berjuang semaksimal mungkin mencapai target yang dicanangkan. Syukur-syukur Indonesia  bisa jadi juara dunia kali ini.

(Yohanes Surya Ph.D).

 

IphO 2003
Indonesia merebut  emas dalam  International Physics Olympiad 34


Tradisi emas Tim Olimpiade Fisika Indonesia tahun ini dapat dipertahankan. Dengan komposisi 5 siswa yang terpilih setelah melalui berbagai tahapan seleksi, TOFI berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih 1 emas (Widagdo Setiawan, SMUN 1 Denpasar Bali), 2 perak (Rangga Perdana Budoyo SMU Taruna Nusantara Magelang, Bernard Ricardo SMU Regina Pacis Bogor) dan  2 perunggu (Triwiyono SMUN 3 Yogyakarta, Yudistria Virgus SMU Xaverius 1 Palembang).

Secara perorangan Widagdo menempati urutan 3 dengan 40 poin. Urutan pertama diraih oleh siswa Amerika Serikat (keturunan Rusia) Pavel Batrachenko 42,3 poin disusul oleh peserta India Yashodhan Kanoria dengan 41,4 poin.

Sedangkan ditinjau dari banyaknya perolehan medali, Indonesia menempati peringkat 6 sesudah AS (3 emas 2 perak), Korea Selatan (3 emas, 2 perak), Taiwan (3 emas, 1 perak, 1 perunggu), Iran (2 emas, 3 perak) dan India (2 emas, 1 perunggu, 2 honorable mention).

Prestasi Indonesia seharusnya bisa lebih baik lagi. Dalam proses moderasi tim juri begitu gigih mempertahankan penilaiannya, sehingga kita sulit  mendapatkan poin sedikitpun, walaupun itu hanya 0,2 poin. Yudistira hanya kurang 0,2 poin untuk mendapatkan perak. Rangga kurang 1,7 poin lagi dari emas. Sebenarnya  banyak sekali poin partial credit rangga ini, sebelum moderasi kami perkirakan bisa memperoleh sekitar 4-6 poin (dari eksperimen + teori). Sebagai contoh, ia tidak teliti dalam menulis hanya 1 tanda  minus saja dihasil akhir, ia dikurangi 0,8 poin (biasanya di olimpiade pengurangan karena tidak teliti ini  tidak terlalu banyak, hanya sekitar 0,2 – 0,3). Untuk moderasi kita hanya punya waktu 25 menit, dalam waktu yang sangat singkat ini sangat sulit untuk memprotes seluruh kesalahan penilaian juri. Prof Ming Juey Lin (ketua panitia) mengakui memang ia memerintahkan juri untuk keras (tentu ke semua negara), agar tidak terjadi inflasi medali. Ia berusaha agar peraih medali emas tidak boleh lebih dari 20 (sambil tertawa ia bilang, kalau lebih dari 20 maka ia harus beli lagi kamera digital dari uang pribadi).


Pejuang Pahlawan Bangsa 2003:


1.     Widagdo Setiawan, SMUN 1 Denpasar Bali – emas/IPhO + emas/APhO

2.     Rangga Perdana Budoyo SMU Taruna Nusantara Magelang – perak/IPhO + emas/APhO

3.     Bernard Ricardo SMU Regina Pacis Bogor- perak/IPhO + emas/APhO

4.     Triwiyono SMUN 3 Yogyakarta – perunggu/IPhO + emas/APhO

5.     Yudistria Virgus, SMU Xaverius 1 Palembang – perunggu/IPhO + emas/APhO

6.     Hani Nurbiantoro Santosa – SMU Sedes Sapiente Jateng – emas/APhO

7.     Muhammad Attamimi – SMUN 5 Surabaya – HM/APhO

8.     Yendi – SMUN 3 Jambi – HM/APhO




Sie Doc