TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Sejarah TOFI 1999

TOFI 1999

1999

            Sepulang dari Islandia, kami mulai mempersiapkan para siswa. Target kami sudah pasti, yaitu medali emas di IPhO XXX di Padua Italia. Waktu training ditambah menjadi  setahun penuh.
            Mestakung terjadi. Ketika kami menetapkan sasaran dan mulai melangkah ke arah itu maka semesta akan mendukung kita. Mestakung pertama terjadi ketika dalam TOFI 1999 kami menemukan satu anak yang sangat berbakat, Made Agus Wirawan dari sebuah desa di Bangli, Bali. Agus anak seorang pemahat. Dia sangat rajin dan cerdas. Soal-soal sulit pun dapat dikerjakannya dengan baik. Kami melihat dirinya punya potensi untuk menjadi juara. Agus sebenarnya termasuk dalam 5 besar TOFI tahun 1998, namun karena tahun 1998 kami hanya memberangkatkan 3 siswa, Agus terpaksa disimpan untuk tahun 1999.    Mestakung kedua adalah terjunnya para alumni untuk ikut melatih dan menjadi co-leader dalam TOFI. Keterlibatan para alumni sangatlah penting, karena mereka tahu bagaimana situasi olimpiade. Pengalaman mereka akan menjadi contoh yang bagus sekali bagi para peserta yang akan bertanding.
            Mestakung lain juga terjadi dalam hal pendanaan. Kami bisa memperoleh  sejumlah dana yang dibutuhkan dengan jumlah tepat, baik untuk pembinaan maupun untuk keberangkatan.

            Dengan keyakinan dapat meraih medali emas dalam Olimpiade Fisika Internasional XXX, kami berangkat ke Padua, Italia, tempat fisikawan besar Galileo Galilei mengajar dan mengembangkan fisika lebih dari  400 tahun yang lalu. Tanggal 18 Juli 1999, kami tiba di Venice International Airport. Venezia (Venice)  merupakan kota kanal kuno yang cantik. Dengan angkutan lokal kami pun dibawa ke Padua. Keesokan harinya, digelar upacara pembukaan diselenggarakan di Verdi Theatre. Malam harinya, para pimpinan tim dibawa ke Universitas Padua untuk menerjemahkan soal tes yang besok akan diberikan kepada para siswa. Tiap pimpinan tim menerjemahkan soal ke dalam bahasa ibunya masing-masing. Tes pertama adalah tes eksperimen selama lima jam.
            Tanggal 20 Juli, usai tes, para siswa tidak melulu melihat soal-soal melainkan meluangkan waktunya ke tempat-tempat hiburan. Mereka diajak melihat Legnaro National Laboratories, Villa Pisani. Lalu, keesokan harinya para siswa diajak mengunjungi banyak tempat yang cantik dan bersejarah seperti Marca Trevigiana Landscapes and Art, Castelfranco, Mirano, Noale, Possagno, Treviso, dan berbagai tempat lainnya. Sedangkan para leader
(pimpinan tim) diminta untuk menerjemahkan soal fisika teori.
           Ketika menerjemahkan soal, kami melihat mestakung terjadi. Kami termotivasi untuk menerjemahkan soal dengan hati-hati. Karena kalau kami salah menerjemahkan,  siswa-siswa kami bisa saja salah menjawab soal dan akibatnya tentu fatal. Dalam menerjemahkan soal kita tidak boleh memberikan petunjuk atau hint. Ketika  terjemahan tersebut diterjemahkan ulang, dan seandainya ditemukan ada petunjuk atau hint maka Indonesia akan mendapat penalti, yaitu dilarang mengikuti olimpiade selama tiga tahun ke depan. Penalti ini tentu saja akan merusak nama baik Indonesia.
            Saya masih ingat, saat itu waktu menunjukkan  pukul dua dinihari kami mulai mengantuk.  Terjemahan masih belum selesai. Namun ajaib,  dorongan untuk menjadi juara ternyata membuat kami mampu bertahan terus. Inilah Mestakung
(semesta mendukung)! Kami (Oki Gunawan, Widia Nursiyanto, dan saya) saling menguatkan untuk bertahan agar mampu menerjemahkan soal sampai tuntas. Akhirnya, soal berhasil selesai diterjemahkan dengan baik sekitar pukul 06.00 pagi.
            Tanggal 22 Juli, selesai tes para siswa kembali dibawa tur ke berbagai museum di Padua lalu menonton pertunjukan musik di ruang terbuka Prato della Valle. Malam harinya para leader (pimpinan tim) mendapatkan hasil tes siswanya. Kami mulai mengoreksi nilai para siswa. Menurut penilaian kami, Made Agus mendapat nilai 44-47 poin dari maksimum 50 poin. Nilai 44 poin akan didapatkan bila jurinya benar-benar keras, sedangkan nilai 47 poin jika jurinya cukup lunak. Harapan untuk mendapatkan emas cukup besar. Kami benar-benar excited.
            Tanggal 23 Juli, masa menegangkan bagi siswa sudah lewat, mereka segera menikmati tur ke National Institute for Nuclear Physics, Science Exhibitions, dan melihat berbagai museum. Sedangkan pimpinan tim dan observer mengadakan rapat untuk membicarakan berbagai masalah dalam Olimpiade Fisika.
           Selesai meeting,  hasil pekerjaan para siswa pun dibagikan.  Kami terkejut sekali  menerima hasil penilaian para juri.  Juri ternyata hanya menilai pekerjaan Agus dengan 40,7 poin dari maksimum 50 poin padahal menurut hasil penilaian kami Agus harusnya dapat antara 44-47 poin.  Dengan hati-hati, kami memeriksa hasil penilaian juri. Dan lihatlah.... kami menemukan banyak kesalahan penilaian juri. Dalam beberapa bagian, juri mengurangi nilai Agus karena Agus mengerjakan soal dengan cara yang berbeda dengan penyelesaian konvensional, padahal hasil akhirnya sama.

            Dalam olimpiade Fisika, juri bisa keliru. Bayangkan juri harus memeriksa ratusan kertas kerja siswa. Ini pekerjaan yang sangat melelahkan. Karena itu, wajar-wajar saja bila juri melakukan kesalahan dalam penilaian. Agar fair, maka dalam olimpiade fisika ini diberikan waktu khusus yang disebut moderasi. Dalam moderasi ini pimpinan tim dihadapkan kepada juri untuk mengonfirmasi apakah pimpinan tim itu setuju dengan hasil yang diberikan juri ataukah merasa keberatan. Kalau merasa keberatan, pimpinan tim harus memberikan bukti-bukti yang kuat agar juri dapat mengevaluasi kembali hasil penilaiannya. Waktu yang diberikan hanya 20 menit untuk satu tim (lima pelajar) per soal tes. Waktu yang sangat singkat. Umumnya, mereka yang dimoderasi adalah siswa yang nilainya terletak di perbatasan antara perak dengan emas, perunggu dengan perak, atau honorable mention dengan perunggu.
             Semalaman kami tidak  tidur menunggu waktu moderasi besok hari. Kami merancang strategi bagaimana dalam waktu 20 menit kami bisa meyakinkan juri bahwa apa yang dinilai itu keliru. Kami bertekad untuk memperjuangkannya secara sungguh-sungguh. Mestakung membuat kami mampu melewati malam ini dengan rancangan strategi yang mantap.

            Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan rasa percaya diri, kami mendatangi juri satu per satu, satu soal demi satu soal kami moderasi. Saat moderasi terjadi perdebatan yang cukup alot. Suasana cukup menegangkan karena poin demi poin sangat berharga. Mestakung terjadi. Kami tidak menyerah. Kami terus mem-push juri bahwa penyelesaian Agus benar, jurilah yang keliru. Akhirnya, melalui perjuangan yang sangat melelahkan baik mental maupun fisik (karena sebelumnya bergadang), kami dapat meyakinkan juri dan mengembalikan nilai Agus hampir sesuai dengan penilaian kami semula yaitu dari 40,7 lalu naik ke 41,2. Kemudian naik lagi menjadi 42, selanjutnya 42,7, dan akhirnya menjadi 44,4 poin.  
            Detik-detik kenaikan poin-poin itu sangat menegangkan, selama proses ini kami mencari tahu nilai dari tiga peserta teratas. Karena tiga nilai teratas inilah yang menentukan batas-batas medali emas. Batas bawah emas ditentukan dari 90% rata-rata tiga nilai teratas menjadi , 78% menjadi batas bawah perak, sedangkan 65% untuk perunggu, dan 50% untuk honorable mention.
            Ketika nilai Agus masih sekitar 42, kami sempat kaget mendengar ada peserta yang mendapat nilai 48 poin. Jika tiga nilai teratas adalah 48 poin maka batas emas adalah 43 poin. Hal ini memotivasi kami untuk terus berjuang dan berjuang demi meyakinkan juri. Di sinilah kami melihat mestakung bekerja dalam diri kami.
           Ketika kami sudah melewati 44 poin kami merasa lega. Karena emas sudah hampir dipastikan diraih Indonesia. Kita hanya akan kehilangan emas jika tiga siswa teratas mendapat nilai sempurna 50 poin yang menurut kami tidak mungkin tercapai.         Selesai moderasi diumumkan nilai tertingginya ternyata adalah 49,8 poin! Dengan batas bawah emas 43 poin, perak dengan 37 poin, batas bawah perunggu 31 poin, dan honorable mention 24 poin.

           Saat pembagian medali,
suasana sangat mengharukan.  Pertama kalinya dalam sejarah ada siswa Indonesia naik ke panggung menerima medali emas di Olimpiade Fisika Internasional. Airmata keharuan menetes, tak mampu dibendung. Suasananya begitu mengharukan. Rasa capai dan lelah pun dalam sekejap hilang. Perjuangan bertahun-tahun ternyata membuahkan hasil yang manis sekali. Anak Indonesia ternyata mampu!
            Sepulang dari Italia saya sakit berhari-hari, sempat diopname di rumah sakit. Mungkin terlalu lelah secara fisik dan mental. Maklum saja, kami bergadang selama hampir lima hari. Tetapi kami puas, sangat puas. Medali emas yang kami impi-impikan akhirnya bisa diperoleh Tim Indonesia. Thanks God! Memang, kalau kita mempunyai target jelas dan mau berjuang ke arah itu, tidak ada yang tidak mungkin, mestakung
(semesta mendukung) yang diciptakan oleh Tuhan akan membantu kita untuk meraih target yang jelas ini.
            Sepulang dari Italia, ini juga kami mentargetkan Indonesia juara dunia 2006 dengan meraih 5 emas. Kami membuat brosur yang kami sebarkan ke banyak tempat. Banyak orang pesimis. Namun kami jalan terus. Ternyata sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sunggu membuahkan hasil yang baik.  Tahun 2006 Indonesia bisa jadi juara dunia dengan meraih 4 emas dan 1 perak.

Pejuang Pahlawan Bangsa 1999:

1.     I Made Agus Wirawan,  SMUN 1 Bangli, Bali – emas

2.     Ferdinand Wawolumaya, SMUK Aloysius Bandung – perak

3.     Jerry Prawiro, SMUK St Albertus Malang – Perunggu

4.     Landobasa Lumbantobing, SMUK St Angela Bandung – perunggu

5.     Ma'muri, SMAN 1 Cirebon – honorable mention




Sie Doc