TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Menjadi Juara Dunia

TOFI 2006

            Olimpiade Fisika Internasional ke-37 tahun 2006 di Singapura, sangatlah spesial. Dengan jumlah siswa sebanyak 386 orang dari 84 negara, Olimpiade Fisika di Singapura merupakan Olimpiade Fisika Internasional terbesar sepanjang sejarah. Mereka yang menjadi juara dalam olimpiade kali ini dapat dikatakan akan menjadi juara dunia sejati, karena hampir semua negara yang aktif dalam Olimpiade Fisika berpartisipasi.

            Kami optimis bahwa kali ini di Singapura, Indonesia bisa mendapatkan medali emas. Namun target kami bukan sekadar medali emas, tetapi menjadi juara dunia. Kami mengharapkan Andika Putra, peraih medali emas di Olimpiade Fisika Salamanca tahun 2005, bisa meraih gelar absolute winner.

            Namun apa yang terjadi selesai olimpiade di Salamanca? Andika menyatakan tidak bersedia bertanding lagi di Olimpiade Fisika Internasional 2006. Walaupun begitu, Andika berjanji akan membantu mempersiapkan tim. Dia bersedia full time membantu menyiapkan siswa kita untuk Olimpiade Fisika di Singapura nanti. Ia ingin memberi kesempatan lebih pada adik-adik kelasnya untuk berprestasi. Berita ini cukup mengejutkan. Ini bisa menjadi berita baik tetapi sekaligus berita buruk bagi kami.

            Selama proses persiapan untuk olimpiade Fisika, kembali kami melihat bagaimana mestakung bekerja.

            Mestakung terjadi pada pemilihan siswa. Selama proses seleksi kami mendapatkan beberapa anak yang cukup menonjol, di antaranya Jonathan Mailoa (SMAK BPK Penabur I Jakarta), Pangus (SMAK BPK Penabur III Jakarta), Andi Latief (SMAN 1 Pamekasan Madura), Irwan Ade Putra (SMAN 1 Pekanbaru), dan Muhammad Firman Kasim (SMP Athirah Makasar). Mereka semua mempunyai motivasi belajar yang sangat tinggi. Kemampuan mereka pun sangat baik.

            Selama pelatihan, peran Andika sangat menonjol. Ternyata dia adalah guru yang baik Dia mampu mentransfer pengalaman dan ilmunya pada siswa yang lain dengan baik sekali. Kami pikir, keputusan Andika untuk tidak ikut bertanding adalah suatu mestakung. Jika Andika tidak mundur, mungkin Jonathan dkk tidak akan mempunyai motivasi yang besar dan semangat berkobar seperti sekarang.

            Mestakung juga terjadi dalam pendanaan. Tahun ini kami melatih dua tim. Satu tim senior yang akan bertanding di Singapura dan tim yunior untuk bertanding di Cina tahun 2007. Kami punya target untuk mengalahkan Cina yang selalu juara dunia di kampung halaman mereka nanti. Kebutuhan dana dipastikan cukup besar untuk dua tim ini. Mestakung terjadi! Bapak Aburizal Bakrie bersedia menutup dana yang dibutuhkan untuk pelatihan ini.

            Di tempat pelatihan, kami memasang spanduk mestakung. Bertuliskan, “Indonesia juara dunia Olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura, I love Indonesia” dan spanduk-spanduk lain yang berisi motivasi. Spanduk merupakan alat mestakung yang cukup efektif. Spanduk ini akan mempengaruhi alam bawah sadar mereka yang membacanya berulang-ulang dan mendorong serta memotivasi para siswa agar menjadi seperti yang tertulis dalam spanduk tersebut. Spanduk juga memengaruhi para guru dan trainer serta lingkungan untuk bekerja keras mendukung tujuan ini.

Mestakung juga saya alami sendiri. Saat itu saya merasa begitu bersemangat untuk  menyiapkan bahan-bahan pelatihan, memperhatikan, memotivasi, dan mendorong para peserta dan pelatih.  Belum pernah kami merasakan motivasi sebesar itu. Dari hari ke hari kami melihat perubahan-perubahan yang dialami para siswa, dari cara berpikirnya hingga cara menjawab soal-soal yang diberikan. Kian hari kian baik.

            Pada bulan April 2006, TOFI diberangkatkan ke Kazakhstan untuk mengikuti Olimpiade Fisika Asia ke-7. Hasilnya luar biasa. Tim Indonesia meraih peringkat ke-2 setelah Cina dengan meraih dua medali emas atas nama Pangus dan Irwan Ade Putra. Sedangkan Jonathan hanya mendapatkan medali perak, padahal selama pelatihan dia lebih baik daripada Pangus maupun Irawan. Pangus bahkan juga meraih penghargaan The Best Experiment.

            Hasil perak yang dicapai oleh Jonathan ternyata bagian dari mestakung. Jonathan begitu semangat untuk meraih absolute winner di Singapura, dia belajar dan belajar.  Mungkin karena lelah, Jonathan sakit beberapa kali. Seandainya dia mendapat medali emas di Kazakhtan, mungkin usahanya tidak akan sekeras ini.

            Ketika berangkat ke Singapura,  kami berangkat dengan 2 pimpinan tim: saya dan Dr. Rahmat Widodo, serta 2 observer Yudistira Virgus dan Andika Putra. Kami mengajak Yudistira, dan Andika untuk menguji apakah hasil terjemahan kami cukup dimengerti oleh siswa atau ada bagian yang tidak jelas. Mereka juga kami minta untuk mencoba alat-alat eksperimen yang akan digunakan, demi mencegah kami memberikan informasi yang salah mengenai alat-alat itu ketika menerjemahkan soal-soal eksperimen.

            Semua persiapan kami cek. Menjelang keberangkatan terjadi mestakung. Seorang motivator, Pak Tommy, menawarkan untuk memotivasi anak-anak ini secara GRATIS! Ini sebagai persiapan mental bagi mereka sebelum bertanding. Saya anggap ini sebagai bagian dari mestakung juga.

            Setibanya di Singapura kami disambut meriah oleh para panitia. Para alumni TOFI yang belajar di Singapura pun ada beberapa yang ikut. Kami bertemu Bernard, alumni TOFI 2003, yang kini menjadi pelatih utama tim Singapura. Sangat membanggakan.

            Usai upacara pembukaan, malamnya para tim leader dan observer mulai menerjemahkan soal. Kami sepakat untuk kerja keras dalam menerjemahkan soal. Jangan sampai ada satu pun bagian yang salah diterjemahkan. Mestakung terjadi. Kami menerjemahkan mulai pukul 21.00 hingga pukul 07.00 pagi. Tidak tidur. Semangat yang tinggi inilah mestakung. Demikian juga untuk terjemahan soal eksperimen kami begitu semangatnya sehingga selesai sekitar pukul 06.00 pagi.

            Ketegangan terjadi sebelum kami menerima hasil penilaian juri. Dari beberapa pimpinan tim kami mendengar kabar (yang belum dicek kebenarannya), nilai tim Cina luar biasa tinggi. Satu siswa Cina mendapat nilai di atas 48 poin dari maksimum 50 poin. Kami setengah percaya setengah tidak. Seandainya memang siswa Cina bisa meraih nilai di atas 48 poin, maka peluang kita untuk juara dunia sirna. Karena menurut perhitungan kami, nilai tertinggi dari siswa kita, Jonathan Mailoa, mencapai sekitar 48 poin.

            Tiba saatnya juri mengumumkan hasil sementara. Suasana sangat tegang. Ketika hasil itu terpampang di layar. Kami hampir berteriak kegirangan. Ternyata juri memberi nilai Jonathan 46,80 untuk soal gabungan fisika teori dan eksperimen berada pada urutan teratas disusul oleh peserta Cina, Shuolong, dengan 46,05.

            Untuk fisika teori nilai Jonathan mencapai 29,7 poin dari maksimum 30 poin. Peserta dari Cina, Hong Kai, juga meraih 29,7 poin disusul Yang Shuolong dengan 29,6 poin. Peserta Hongaria, Halash Gabor, absolute winner tahun lalu, meraih 29,5 poin.

            Untuk nilai eksperimen Jonathan meraih 17.10 poin dari 20 poin. Lagi-lagi disusul oleh peserta Cina, Shuo Long, dengan 16,45. Menurut penilaian pimpinan tim China, juri terlalu keras dalam penilaian, mereka pun akan ikut moderasi untuk memmrotes hasil ini.

            Kami, pimpinan dan observer tim Indonesia juga mulai berhitung. Jika Shuo Long mendapat tambahan 1 poin dari moderasi nanti, maka gelar absolute winner bisa melayang. Agar posisi Jonathan sebagai juara dunia aman, kami sepakat dalam moderasi nanti kami harus berjuang semaksimal mungkin. Kami menemukan beberapa poin dimana juri salah memberikan nilai.

            Kami pun mulai menyiapkan strategi. Ini proses mestakung. Waktu moderasi untuk soal teori adalah 3 x 20 menit dan soal eksperimen 4 x 20 menit. Dalam moderasi ini yang harus kuat tidak hanya  fisik saja tetapi juga mental. Selama moderasi 7x20 menit ini, kami berhasil meyakinkan juri dan bisa mengembalikan nilai Jonathan sebanyak 0.4 poin.

             Dengan tambahan 0,4 poin ini maka total nilai Jonathan adalah 47,20 poin. Ini belum menjamin Jonathan menjadi juara dunia. Kami masih harus menunggu hasil moderasi tim Cina.

            Tim Cina berhasil memoderasi siswanya, Hong Kai, untuk soal teori dari 29.7 poin menjadi 30 poin (nilai sempurna)! Demikian juga tim Hongaria, Gabor, mendapat nilai sempurna 30 poin. Untuk Shuolong, tim Cina hanya mendapatkan...0,4 poin. Yeesss...! Jadilah Jonathan juara dunia, dengan meraih gelar  The Absolute Winner! Kami merasa sangat gembira. Tidak terkira dan tidak terlukiskan kegembiraan kami saat itu. (***)


Sie Doc